Posted by Ramoun Apta at 21.09
Read our previous post
Burung Waletaku permaisuri raja
hari-hari berpuisi cinta
istana sulaiman tempat bertapa
di gua-gua aku bersabda
nyanyianku surga
akulah mentari alam semesta
akulah bidadari senjakala
akulah!
akulah segalanya…
Burung Layang-Layang
di ujung petang aku bermadu
di muka laut aku meramu
disenja aku memburu
sebut aku si tukang kabar
dari semesta aku menyebar
penuntun arah perahu layar
pemberi ombak peselancar
sembah aku!
nyanyikan aku!
Burung Punai
oh malam berinai
peluklah aku dengan lenganmu
usap mataku
usap dadaku
mari menyusun bunga-bunga tanjung
Burung Balam
nyanyian mengidung rindu
begitulah setiap pemulang menyebutku
nyanyian tentang petang yang dihilirkan hujan
edelwis yang berterbangan
dan seribu jalan kunang-kunang
seringkali dihibah kepada para pemulang
selepas hasrat mudik berlalu
pemulang yang datang akan kembali menyeberang
menunggu musim lain untuk kembali pulang
ketika suaraku tak lagi mengidung
siapa yang bakal menuntun pemulang setiap datang?
Burung Gagak
bangkaimu
di jalan mana yang bakal ditempuh?
Burung Beo
kau latahkan aku pada kata
kapan kau ajari aku tentang sebuah makna?
Burung Pungguk
hujan menjelma bayang
merupa orang yang hendak menerjang
dimana denah lain sebuah ungkapan
ungkap mereka pencari bulan
sementara anjing masih menyalak panjang…
Burung Elang
mengapa dia yang kau sebut sebagai jantan
bukankah aku yang lebih pandai mengasah pedang.
jilatang malam yang membayangmu dimusim tanam
seringkali kuhujam di tengah ladang
dipijak-pijak
sampai mati terbenam
engkau tumbuh seperti padi
makin hari semakin bernas
sehingga menyondong ke negeri seberang
dan mulai membiasakan diri di sekitar
selagi aku jarang membuaimu
kau malah memilih untuk menetap di sana
dan ingin berbiak pula di sana.
mengapa seberang yang kau sangsikan
sementara aku yang selalu menyiram
apakah kau lupa kalau aku ini binatang jalang
Burung Kutilang
kurus
tinggi
langsing
aku menyebutmu pindan
sebab kau serupa benang merah yang seringkali dipakai
dewa untuk mengatur perjodohan bujang satu dengan upik lain
dengan kewenanganmu aku dilahirkan
serupa jamur dimusim hujan
yang mencari tubuh lain untuk menopang badan sebesar dangau
seringkali ketika kemarau menyerang aku kehilangan separo badan
dan kembali tumbuh ketika hujan
tetapi kembali hilang saat kemarau menjalang.
barangkali berulang-ulang kali kemarau datang
aku akan hilang juga
serupa orang-orang besar yang baru berpulang
kurus
tinggi
langsing
aku menyebutmu pindan
setiap bunyi yang disuarakan memikat melayu untuk segera datang
meminta untuk diturunkan hujan
sebab kau dianggap sebagai pawang
yang pandai melayarkan perahu diwaktu badai
Burung Puyuh
setiap lobang di belukar
adalah jalanku untuk pulang.
aku pernah mencari jalan baru di hutan sebelah
malah tersesat di rimba ganas. namun aku bertemu unggas
yang selalu menyuarakan pintas
entah seberapa sering ia berucap “ini jalan yang baik”
tapi tak jua bersua tujuan
untung aku sempat bertemu (aku menyebutnya suara)
di ujung simpang yang kuraba dengan buta
dan ia membantu menuntunku keluar dari rimba hingga sampai di hutan
di hutan aku bertemu (aku menyebutnya datu)
dan ia juga yang menunjuk kemana arah untuk menemukan jalan pulang
andai aku tak segera tersadar tentang belukar
akan selalu ada simpang penunjuk jalan lain menjadi yang lebih sesat.
Burung Rangkok
mengapa kau maknai setiap mawar adalah perawan?
mawar memiliki duri yang siap menujah
namun kumbang lebih jeli mencari celah lain
untuk segera menyusup dengan sengat
aku lebih senang menyebutnya intonasi
dalam fragmen puisi
sebab setiap kisah yang tersaji seperti
irama yang membuncah-buncah
yang seringkali diucap penyair
ketika sedang merangkai makna
Burung Ababil
sebelum terlambat, mandilah sejenak
batu
angin
awan
akan menghujan sekali badai
dosa adalah hal pasti
bagi api yang manjat di tebing thursina
kepiawaian dalam menyulam setiap detik adalah pedang
dari setiap windu yang hilang
ketika buas lebih besar daripada ikan di laut pasang
aku, kau, dan pengikut
lebih buas
lebih jinak
ketimbang jemaah daud dan musa
bukankah Al-kitab adalah penuntun suatu jalan.
Burung Murai Batu
apa yang bakal kau nyayikan
saat sakratul maut menjelang.
Burung Hantu
aku gaib
sebab segala yang ada di sekitar aku tampak
aku pandai
mencium aroma tikus dan musang
yang kesileweran di balik rimbunan semak
sekalipun berparfum kembang melati dan gula
aku gaib.
seakan terbiar di pucuk belukar
menatap mereka yang semakin lihai
Burung Kakak Tua
burung kakak tua
hinggap di jendela
nenek sudah tua
giginya tinggal dua
sementara di bait-bait yang lain
kau tak lebih dari budak yang ditinggal pergi emak
sebab gelak bukan pengantar canda
tapi penuntun penyair yang murka
dari setiap jengkal kata menipu jejak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar