Comments

Jumat, 27 Agustus 2010

Sajak Burung

Posted by at 21.09 Read our previous post
Burung Walet

aku permaisuri raja
hari-hari berpuisi cinta
istana sulaiman tempat bertapa
di gua-gua aku bersabda
nyanyianku surga

akulah mentari alam semesta
akulah bidadari senjakala

akulah!
akulah segalanya…







Burung Layang-Layang

di ujung petang aku bermadu
di muka laut aku meramu
disenja aku memburu

sebut aku si tukang kabar
dari semesta aku menyebar
penuntun arah perahu layar
pemberi ombak peselancar

sembah aku!
nyanyikan aku!








Burung Punai

oh malam berinai
peluklah aku dengan lenganmu
usap mataku
usap dadaku
mari menyusun bunga-bunga tanjung




Burung Balam

nyanyian mengidung rindu
begitulah setiap pemulang menyebutku

nyanyian tentang petang yang dihilirkan hujan
edelwis yang berterbangan
dan seribu jalan kunang-kunang
seringkali dihibah kepada para pemulang

selepas hasrat mudik berlalu
pemulang yang datang akan kembali menyeberang
menunggu musim lain untuk kembali pulang

ketika suaraku tak lagi mengidung
siapa yang bakal menuntun pemulang setiap datang?





Burung Gagak

bangkaimu
di jalan mana yang bakal ditempuh?




Burung Beo

kau latahkan aku pada kata
kapan kau ajari aku tentang sebuah makna?


Burung Pungguk

hujan menjelma bayang
merupa orang yang hendak menerjang
dimana denah lain sebuah ungkapan
ungkap mereka pencari bulan
sementara anjing masih menyalak panjang…






Burung Elang

mengapa dia yang kau sebut sebagai jantan
bukankah aku yang lebih pandai mengasah pedang.

jilatang malam yang membayangmu dimusim tanam
seringkali kuhujam di tengah ladang
dipijak-pijak
sampai mati terbenam

engkau tumbuh seperti padi
makin hari semakin bernas
sehingga menyondong ke negeri seberang
dan mulai membiasakan diri di sekitar

selagi aku jarang membuaimu
kau malah memilih untuk menetap di sana
dan ingin berbiak pula di sana.

mengapa seberang yang kau sangsikan
sementara aku yang selalu menyiram

apakah kau lupa kalau aku ini binatang jalang










Burung Kutilang

kurus
tinggi
langsing

aku menyebutmu pindan
sebab kau serupa benang merah yang seringkali dipakai
dewa untuk mengatur perjodohan bujang satu dengan upik lain

dengan kewenanganmu aku dilahirkan
serupa jamur dimusim hujan
yang mencari tubuh lain untuk menopang badan sebesar dangau

seringkali ketika kemarau menyerang aku kehilangan separo badan
dan kembali tumbuh ketika hujan
tetapi kembali hilang saat kemarau menjalang.
barangkali berulang-ulang kali kemarau datang
aku akan hilang juga
serupa orang-orang besar yang baru berpulang

kurus
tinggi
langsing

aku menyebutmu pindan
setiap bunyi yang disuarakan memikat melayu untuk segera datang
meminta untuk diturunkan hujan
sebab kau dianggap sebagai pawang
yang pandai melayarkan perahu diwaktu badai



Burung Puyuh

setiap lobang di belukar
adalah jalanku untuk pulang.

aku pernah mencari jalan baru di hutan sebelah
malah tersesat di rimba ganas. namun aku bertemu unggas
yang selalu menyuarakan pintas
entah seberapa sering ia berucap “ini jalan yang baik”
tapi tak jua bersua tujuan

untung aku sempat bertemu (aku menyebutnya suara)
di ujung simpang yang kuraba dengan buta
dan ia membantu menuntunku keluar dari rimba hingga sampai di hutan

di hutan aku bertemu (aku menyebutnya datu)
dan ia juga yang menunjuk kemana arah untuk menemukan jalan pulang

andai aku tak segera tersadar tentang belukar
akan selalu ada simpang penunjuk jalan lain menjadi yang lebih sesat.






Burung Rangkok

mengapa kau maknai setiap mawar adalah perawan?
mawar memiliki duri yang siap menujah
namun kumbang lebih jeli mencari celah lain
untuk segera menyusup dengan sengat

aku lebih senang menyebutnya intonasi
dalam fragmen puisi

sebab setiap kisah yang tersaji seperti
irama yang membuncah-buncah
yang seringkali diucap penyair
ketika sedang merangkai makna






Burung Ababil

sebelum terlambat, mandilah sejenak
batu
angin
awan
akan menghujan sekali badai

dosa adalah hal pasti
bagi api yang manjat di tebing thursina

kepiawaian dalam menyulam setiap detik adalah pedang
dari setiap windu yang hilang
ketika buas lebih besar daripada ikan di laut pasang

aku, kau, dan pengikut
lebih buas
lebih jinak
ketimbang jemaah daud dan musa

bukankah Al-kitab adalah penuntun suatu jalan.









Burung Murai Batu

apa yang bakal kau nyayikan
saat sakratul maut menjelang.












Burung Hantu

aku gaib
sebab segala yang ada di sekitar aku tampak

aku pandai
mencium aroma tikus dan musang
yang kesileweran di balik rimbunan semak
sekalipun berparfum kembang melati dan gula

aku gaib.
seakan terbiar di pucuk belukar
menatap mereka yang semakin lihai






Burung Kakak Tua

burung kakak tua
hinggap di jendela
nenek sudah tua
giginya tinggal dua


sementara di bait-bait yang lain
kau tak lebih dari budak yang ditinggal pergi emak

sebab gelak bukan pengantar canda
tapi penuntun penyair yang murka
dari setiap jengkal kata menipu jejak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template