Posted by Ramoun Apta at 12.01
Read our previous post
Ia
tak peduli, yang ia inginkan cuma satu, seorang istri. Harta ia sudah banyak,
mobil ia sudah berserak, kebun memanjang berhektar-hektar, rumah gedung
bertingkat, ruko puluhan, motor mewah keluaran Amerika dan Jerman penuh mengisi
parkiran koleksi kendaraan di rumahnya. Ekonominya sudah mapan. Tetapi ia
kurang bahagia. Ia sehat tetapi senyum tidak berbuah di bibirnya. Saking tidak
bahagianya, liurnya saja terasa masam apabila bibirnya mengecap. Ia benar-benar
ingin menikah.
Teman-teman
yang ia kenal sudah menikah semua. Bahkan, ada yang beristri lebih dari satu.
Tiga, lima, bahkan ada yang sampai lima belas. Semua temannya berbahagia. Semua
temannya senang bersenda gurau bersama anak-anak mereka sambil menjilat
potongan es krim di taman kota. Padahal teman-temannya tidak ada yang kaya
seperti ia. Tetapi, “Kenapa hanya aku seorang yang belum menikah?”
Pada
usia yang sudah menginjak kepala tiga, tepatnya tiga puluh lima tahun tujuh
bulan, ia sangat risih dengan kehidupan. Ibunya yang sudah tua itu, seringkali
kelupaan akan ia. Ibunya lupa akan paras anaknya sendiri. Memang benar,
penyakit lupa ibu kadang-kadang saja datangnya, sebagaimana buah kelapa jatuh
di kala angin kencang. Ia maklum saja. Ia merasa wajar karena ibunya memang
sudah tua. Saking wajarnya, kadangkala ia beranggapan, penyakit kelupaan ibu
sebenarnya hanya dibuat-buat saja. Sebenarnya ibu tidak lupa, akan tetapi
pura-pura lupa, pura-pura tidak mengenali siapa anaknya. Ia sadar betapa ibu
sebenarnya kecewa lantaran ia belum menikah. Ia sering mendengar ibu meracau,
betapa ibu sangat menginginkan seorang cucu, menimang cucu, dan memencet hidung
cucu yang lucu seperti nenek tua tetangga di sebelah itu.
Saudara-saudaranya
tak lagi ada. Sudah mati semua. Sebagaimana satu sisir pisang, yang lain sudah
pada punah. Dari enam bersaudara kini hanya tinggal ia seorang.
Saudara-saudaranya beragam-macam cara matinya. Ada yang bunuh diri di tebing
dan melompat ke jurang dalam. Ada yang sengaja meletakkan kepalanya di belakang
mobil Dam Truck pengangkut batubara yang sedang mundur. Ada yang sengaja
meminum sebotol minyak rem dengan gelagat yang kehausan benar selesai
memperagakan aksi jungkir-balik pada suatu pertunjukan teater. Ada juga yang
menggorok leher sendiri dengan menggunakan sadel sepeda Unta. Dan, ada juga
yang mati begitu saja ketika berdoa kepada pohon beringin tua yang dahannya
pada berguguran.
Alasan
saudara-saudaranya mati beragam hal. Ada yang mati karena sudah berulangkali
berhubungan intim dengan pelacur tercinta namun masih juga tidak paham
bagaimana cara memasang kondom yang baik dan benar. Ada yang mati karena beban
pikiran lantaran tak kunjung berhasil mengarang sebuah esay setelah selama dua
bulan mencoba namun hanya dua paragraf yang berhasil dituntaskan sementara
deadline lomba cipta esay yang berhadiah jalan-jalan keliling dunia plus uang
saku sekehendaknya itu semakin dekat. Ada yang mati karena tak memiliki kepandaian
berbicara dengan perempuan idaman yang ingin sekali ia nikahi dan yang paling
sempurna dari perempuan-perempuan yang pernah ia nikahi sebelumnya. Ada juga
yang mati karena tidak pandai mengucap huruf ‘R’ sementara sebagai wartawan
kriminal dan pemerkosaan ia mesti mewawancarai pelaku dan korban; di mana
setiapkali bertemu dengan narasumber ia selalu dikritik apabila huruf ‘R’ itu
berkelok di lidahnya. Dan, ada juga yang mati karena orang yang berhutang
kepadanya terlalu banyak dan tidak satu pun yang datang membayar meski ia tak
meminta sejumlah bunga. Dan kini, hanya ia seorang. Harapan ibunya agar ia
segera menikah, beranak-pinak, dan berbahagia.
***
Ia
ingin sekali menikah dan membahagiakan ibunya dengan memberikan cucu agak
seorang. Akan tetapi, setiapkali berkenalan dengan perempuan, selalu niatnya
ditolak. Alasannya beragam. Ada yang katanya sudah menikah, ada yang mengaku
sedang hamil lima bulan, ada yang tidak ingin menikah sebelum rambutnya rontok
semua, ada yang mengeluh sakit gigi sehingga merasa belum mampu mengurus
seorang lelaki, dan ada juga yang memang sama sekali tidak berminat dengan
pria.
Di
antara perempuan-perempuan yang pernah menjalin hubungan dengannya, ada seorang
perempuan yang sangat berkenan di hatinya, ia bernama Seseorang. Orangnya tidak
cantik, jauh dari sikap baik hati, jarang sekali mandi, penipu licik, dan sudah
pasti suaranya jelek sekali. Keteknya, barangkali sebau terasi. Setiapkali
janjian ketemuan selalu perempuan itu minta dibelikan es krim banyak sekali dan
cokelat rasa stroberi sembilan batang sekali jadi. Tetapi ia senang dengan
perempuan itu, dan ia sangat ingin menikah dengannya. Alasannya sederhana,
karena tidak ada perempuan yang mau menikah dengannya maka ia memilih
Seseorang. Dan ia beranggapan Seseorang sepertinya juga menaruh hati padanya.
“Demi
malam yang selalu ada, maukah kamu menikah denganku, wahai cinta?”
“Tentu
saja aku mau menikah dengan kamu. Kamu kan orangnya berpunya. Aku minta itu
kamu belikan sekali banyak. Senang aku jadinya. Bodoh sekali kalau ada
perempuan yang tak mau menikah dengan kamu. Aku yakin pasti lesbi itu
perempuan!”
“Lantas,
bilakah kiranya ketepatan waktu kita menikah?”
“Terserah
kamu saja, kamu maunya kapan, aku siap sedia. Tetapi, sebelum menikah, aku
minta mas kawinnya didahulukan. Tidak banyak juga. Cuma kalung emas seberat
lima puluh Mayam, cincin kawin dengan intan sebesar jempol kaki, dan uang tunai
sebesar dua puluh ribu rupiah buat beli rokok orang sewaan yang bakal menjadi
wali nantinya. Bagaimana?”
“Baiklah,
cinta. Akan aku sediakan segera. Ee eh, ngomong-ngomong, ternyata harga kamu
tinggi juga ya.” Kata ia ngawur entah kemana.
Ia
bahagia. Akhirnya ia akan menikah juga. Betapa merasa beruntungnya ia. Ia tak
peduli dengan mas kawinnya. Berapa pun yang Seseorang minta akan ia berikan. Ia
sudah terlampau larut dalam kegembiraan.
Maka,
tanpa berpikir panjang, dengan sigap, ia sediakan segera emas seberat lima
puluh Mayam itu, cincin kawin dengan intan sebesar jempol kaki itu, dan uang
tunai sebesar dua puluh ribu rupiah itu ia amplopkan.
Akan
tetapi, belum lama setelah mas kawin itu ia serahkan, belum genap pula lima
hari mas kawin itu baru berpindah tangan, Seseorang sudah menghilang. Ketika
nomor kontaknya ia coba hubungi, sudah tidak aktif lagi, malah sudah lain pula
nada panggilannya. Pemilik nomer yang elu tuju sudah kabur, dan Handphone yang
elu belikan itu sudah pula dibuang pemiliknya ke sumur. Duh duh…, kasihan deh
elu…! “Ah, lagi-lagi demikian. Lagi-lagi aku gagal dan batal menikah!”
***
Belum
lama ini ia sempat bercerita kepada seorang teman mengenai kisah cintanya yang
kalera itu.
“Wahai
teman, kenapa aku selalu gagal dan tersingkir dalam percintaan?”
Perlu
diketahui, seorang teman yang ia temui ini adalah seorang penyair.
Karya-karyanya sudah bertebaran di berbagai media massa, baik itu di tingkat
daerah, nasional, hingga internasional. Sudah terangkum pula dalam ratusan buku
antologi bersama, bersama-sama para penyair dari berbagai angkatan pula
gengsinya. Bahkan, konon kabarnya, ia sudah memiliki tiga puluh judul buku
puisi tunggal, dan masing-masingnya sudah berulangkali cetak dan menjadi best
seller sebagai buku puisi terlaris. Itulah sebabnya sehingga ia mau bertanya
kepada itu teman. Baginya, sudah sangat pantas itu teman pendapatnya diminta.
Karena ia percaya bahwa penyair adalah manusia yang paling paham akan persoalan
cinta.
“Jikalau
aku simak, persoalan engkau hanya satu, kau tidak pandai berbahasa. Bahasamu
itu, waduh, kacau! Tidak puitis, dan hampa. Ubahlah bahasa engkau itu menjadi
sedikit indah. Tetapi, jangan sampai engkau terlihat lebay.”
“Bagaimana
cara agar aku bisa mengubahnya? Di mana buku panduan berbahasa indah bisa aku
dapatkan?”
“Engkau
beli saja buku kumpulan puisiku. Puisi-puisiku itu indah sekali. Romantis. Engkau
rayu saja perempuan dengan puisi itu, aku jamin akan banyak perempuan yang
meminta engkau untuk segera menikahinya. Itulah rahasiaku sehingga dulu
kekasihku banyak dan akur semua. Hanya puisi, cuma kepandaian dalam berbahasa.”
Jawab temannya sembari diiringi suara carut-marut istrinya yang mengeluh akan
ketiadaan nasi dan sambal buat santapan ini malam.
“Ah,
kamu besar ota!”
***
Ingin
sekali ia membahagiakan ibunya. Akan tetapi, apa mau di kata, tidak ada seorang
pun perempuan mengena pinangannya. Betapa keharuan begitu besar melanda di
hatinya. Bahkan, karena saking harunya, ia pernah hampir menabrak tukang siomay
yang sedang bermenung indah memikirkan nasib di suatu simpang. Ia merasa
menjadi seorang yang paling malang di daerahnya.
Pada
suatu kesempatan ibunya pernah berkata: “Menikahlah, Nak! Tak ada gunanya
kekayaan dan kekerenan yang kau punya apabila kau belum mempunyai anak.”
Begitulah.
Mau tidak mau, ia harus menikah.
Maka,
ia putuskan untuk kembali mencari perempuan. Tidak peduli ia akan kembali
gagal. Akan ia tanyai setiap perempuan yang ia jumpa, di mana saja, sampai
benar-benar ada perempuan yang mau menikah dengannya. Tidak perlu cinta, yang
penting perempuan itu mau menikah dan mampu untuk beranak, meski tidak sanggup
untuk setia. Ia hanya ingin menikah dan memberikan cucu buat ongkos kebahagiaan
sebelum ibunya meninggalkan dunia.
Akan
tetapi, baru saja ia berencana akan pergi, mendadak saja handphonenya berbunyi.
Ia heran. Rasa-rasanya baru kemarin ini itu handphone dibuang. Sudah dilempar
ke arah muara beserta segala masa lalu yang suram. Ia ingat sekali. Sangat
ingat. Tetapi, kok ada lagi di sini ya. Lantas, ia angkat juga itu telpon,
dengan gelagat sedikit berpaham dan berwibawa.
“Hallo,
siapa gerangan menelpon di kejauhan?”
“Hallo,
saya Ses…&%#^%zxewrex….”
“Hallo.
Hallo? Kamu Ses… Siapa?”
“Saya
Ses… !%#@$%^grzxzerbruek….”
“Hallo-hallo-hallo,
suara kamu putus-putus!”
“Hallo-hallo-hallo…,
saya Seseorang.”
“Seseorang?”
“Iya,
Seseorang. Apakah kamu Ramoun Apta, si penulis yang mengarang cerita berjudul
‘Maukah Kamu Menikah Denganku, Wahai Cinta?’”
Lp.
Karta-Tambud, 2012
*dimuat
di koran Haluan, 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar