Posted by Ramoun Apta at 21.28
Read our previous post
SAJAK-SAJAK RAMOUN APTA DWI SAPUTRAIkan Laut
dimana-mana ada jalan
untuk bersahabat dengan alam
menyatu dengan ombak
berlompatan ke muka laut
berlagak-lagak di udara
berkejaran diantara karang
mengitari selat yang katanya luas
di rumah yang menyimpan
ribuan misteri tentang asal muasal
asin, kota hilang, harta terpendam
adalah kekayaan
mari ternakkan kerang yang pandai
menganak mutiara-mutiara
dan pelihara kilaunya.
Terminal Atas Ma. Bungo, 2010
Ikan Asin
beginilah panasnya dunia
dimana-mana orang-orang saling mengumpat
dalam lipatan pasar. di pasar
bersaing secara tidak wajar
menjelma kertas pembungkus sambal
mengelabui akal sehat
membenam hak-hak ke bandar-bandar
di pasar. berlomba mencari celah
menyusup ke lapak kawan
meski badan berbau kubangan
ada kesempatan, disitu jalan
sebagian tergelak
sebagian mencela
melotot padam!
Terminal Atas Ma. Bungo, 2010
Ikan Sungai
seperti pencuri. terkadang ia berenang di air keruh
menyelindap senyap mencari buruan yang biasanya
selalu keluar diwaktu malam. memang malam yang
selalu diharap untuk dapat nemu buruan yang lemah
setelah asik berkejaran diwaktu siang
setelah malam. buruan hilang diantara bayang lumut.
giliran mereka lagi mencari makan.
setelah kenyang
diburu-buru lagi, kalau dapat dimakan serta tulang-tulang
dan sisa makanan di perutnya.
selesai memakan, kembali pulang lewat air keruh
dengan menyelindap senyap.
di jalan pulang bertemu pemangsa
dengan segera mencecap-cecap lari secepat kilat
memperkeruh air
namun jejak dan bau sedap yang tertinggal
merangsang insting pemansa lain untuk mendekat.
dan, riwayat badan dikandung lawan pun bersemayam
di rantai piramida alam yang sudah menjadi hakikat liar.
ah, terkadang pula demikian.
LPK, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar