Comments

Jumat, 27 Agustus 2010

Kurniati

Posted by at 21.39 Read our previous post
aku mengingatmu
bak kucing dimusim kawin.

kita merasa lucu
melihat kudaan dipaksa
melayu untuk berjalan
sementara kakinya tertanam
di lantai beton
yang sengaja dibikin
untuk merupa mainan
burung-burung
“bukankah itu lawak”

seringkali budak kampung
melarang tawa kita
“tertawa sekarang bayar, kalau tidak, dilarang”
sambil menunjuk jalan
pematang yang barangkali
untuk penggelak
yang tak punya uang.

kita segera melewatinya
dengan tak henti-hentinya tertawa
hanya saja dalam porsi kecil.
takut ketahuan budak kampung
nantinya akan marah besar

untuk mencari bahan
tetawaan lain yang lebih besar
sampailah kita di jalan raya
lalu-lalang gerobak kerbau
dan mobil angkutan

kita kembali tertawa
melihat kerbau ditindih tuannya
kita kembali tertawa melihat
mobil menghantam tumpukan
batu milik tuannya
kita tertawa-tawa
terus sepanjang jalan.

bagiku kau seperti kawan
yang juga seumpama bini
dan tawamu seperti nafas
baru yang memperjelang mataku
untuk segera melupa duka, dimana
jejak-jejakku hanya
tinggal setengah.

hikayat berkata lain
sampai di sebuah simpang
gelakmu terhenyak oleh
budak yang selalu
menyurakan saya
yang seringkali menjadi
takutku disetiap akan terlelap.

sementara kerbau ditindih
tuannya berusaha melawak
sementara mobil berusaha
terus menghantam tumpukan
batu milik tuannya
sementara kudaan
dipaksa melayu untuk berjalan

tawamu dicurinya juga
entah siapa lagi yang bakal tertawa.

Tunas Mandiri, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template