Posted by Ramoun Apta at 21.01
Read our previous post
kehidupanseperti malam menjemput parak siang
seperti mendung mengundang hujan dalam persemaian pesta
begitulah kehidupan berucap pada tanah kita yang
makin hari semakin subur, seharusnya.
sebelum takdir berulah dimana alam berucap
aku menyemaimu diantara ribuan upik yang
diperbudak raja. aku mengajarimu seperti emak mengasuh
anak, dimulai tanpa mengenal sedikit pun ilmu sehingga
kini menjadi cerdas penuh pengetahuan
ketika semasih belia bukankah huruf alif-ba pun belum kau mengerti?
aku masih ingat gelagatmu yang merabal huruf demi huruf dengan renta
tak jarang pula kau mencercanya karena tak dapat membujuk kata sehingga
tak jarang juga buku-buku itu melayang ke udara dan jatuh tepat mengenai
wajahku
ah, geli tulang ini kalau mendengarmu membacanya,
namun aku tetap berupaya untuk mengelus suasana
sehingga tanpa kau sadari aku telah ikut hanyut dalam
ceritamu yang haru
seringkali aku mencari variasi pembelajaran baru
supaya kau lebih cepat memahami dan lebih cepat
pula peduli dengan lingkungan sekitar.
dimana orang-orang di sekeliling menghendaki kita untuk melepas
gurau yang selalu terlontar ucap seketika ditanya tentang kapan
bulan yang baik untuk segera memulai tanam baniah di padang.
Tunas Mandiri, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar