Comments

Sabtu, 22 November 2014

Puisi-puisi Ramoun Apta, terbit di Kompas 8 Juni 2014

Posted by at 11.34 Read our previous post


Menuju Rendang

jalan menuju rumahmu tinggi mendaki
sedang langkahku tersandung di ceruk kuali.

di atas papan racik ini
rempah-rempah tinggal sampah

santan pecah
kayu ditinggal api.

denting kelaci tak ada lagi
waktu habis di janji.

aku daging puisi
di baskom ini sapiku melenguh lagi.

Muarabungo, 2014



Jalan Tikus

kau memasukiku seperti memasuki lorong waktu
setelah menikung di simpang-simpang
mengecoh anjing-anjing putih yang dalam episode sebelumnya
telah memenjarakanmu di bilik berdinding rotan itu.

di dalam diriku, adakah kau bawa peta?
sebab di dalam diriku, diam-diam, juga terdapat simpang.
yang satu mengarah ke detak jantung.
sedang yang satunya lagi jalan menuju dubur.

di salah satu antara dua jalan itu
seekor singa siaga menerkammu.

Muarabungo, 2013



Angin yang Santun
-Kiyomi Shinju

akulah si penipu!
yang merayu setangkai daun berusia seratus tahun
agar sedia gugur.

akulah si perayu!
yang menipu setangkai daun berusia seratus tahun
demi tunas baru.

Muarabungo, 2013



Tawar-Menawar di Pasar Pagi

Pembeli:
seperti solar yang berlari ke kedai kaki lima
puan hargai bawang sekebat angin ini.
alamat gugur daun ke unggun api.
sedang ranting dan tampuk di ujung masih hijau.
selera masih semburkan getah putih berseri.

kami membeli untuk kembali menjual.
di Pasar Gendang lapak datar kami gelar.
tapi pembeli di sana melambai seperti nyiur kelapa ini.
hujan lebat bibir mereka bila tinggi cabe
lebih rendah dari kuduk bawang ini.

kalau kami boleh menawar, puan penjual,
mengingat sesama pedagang,
setali bawang tolong lupakan.

Pedagang:
kami orang datang di pasar ini.
tebu bertunas di kampung kami.
telur berbagai unggas bergerilya di ladangnya.

ini bawang bukan sembarang bawang
Jambi bukan Minang tidak.
naik kapal besar mereka merapat.
ladangnya seluas kubur di masa lampau.
perih takdirnya membogem-mentah ini mata.
orang Batanghari senang menjadikannya lalapan.

bawang ini mampu memerdukan desah suami di ranjang
meski kuduknya lebih tinggi dari cabe di sela pahamu
sebab segala sambal dan gulai hilang marwah
bila mereka tiada.

Muarabungo, 2013



Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Aktif dalam LPK (Labor Penulis Kreatif). Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template