Posted by Ramoun Apta at 11.34
Read our previous post
Menuju
Rendang
jalan menuju
rumahmu tinggi mendaki
sedang
langkahku tersandung di ceruk kuali.
di atas
papan racik ini
rempah-rempah
tinggal sampah
santan pecah
kayu
ditinggal api.
denting
kelaci tak ada lagi
waktu habis
di janji.
aku daging
puisi
di baskom
ini sapiku melenguh lagi.
Muarabungo, 2014
Jalan Tikus
kau
memasukiku seperti memasuki lorong waktu
setelah
menikung di simpang-simpang
mengecoh
anjing-anjing putih yang dalam episode sebelumnya
telah
memenjarakanmu di bilik berdinding rotan itu.
di dalam
diriku, adakah kau bawa peta?
sebab di
dalam diriku, diam-diam, juga terdapat simpang.
yang satu
mengarah ke detak jantung.
sedang yang
satunya lagi jalan menuju dubur.
di salah
satu antara dua jalan itu
seekor singa
siaga menerkammu.
Muarabungo, 2013
Angin yang
Santun
-Kiyomi
Shinju
akulah si
penipu!
yang merayu
setangkai daun berusia seratus tahun
agar sedia
gugur.
akulah si
perayu!
yang menipu
setangkai daun berusia seratus tahun
demi tunas
baru.
Muarabungo, 2013
Tawar-Menawar
di Pasar Pagi
Pembeli:
seperti
solar yang berlari ke kedai kaki lima
puan hargai
bawang sekebat angin ini.
alamat gugur
daun ke unggun api.
sedang
ranting dan tampuk di ujung masih hijau.
selera masih
semburkan getah putih berseri.
kami membeli
untuk kembali menjual.
di Pasar
Gendang lapak datar kami gelar.
tapi pembeli
di sana melambai seperti nyiur kelapa ini.
hujan lebat
bibir mereka bila tinggi cabe
lebih rendah
dari kuduk bawang ini.
kalau kami
boleh menawar, puan penjual,
mengingat
sesama pedagang,
setali
bawang tolong lupakan.
Pedagang:
kami orang
datang di pasar ini.
tebu
bertunas di kampung kami.
telur
berbagai unggas bergerilya di ladangnya.
ini bawang
bukan sembarang bawang
Jambi bukan
Minang tidak.
naik kapal
besar mereka merapat.
ladangnya
seluas kubur di masa lampau.
perih
takdirnya membogem-mentah ini mata.
orang
Batanghari senang menjadikannya lalapan.
bawang ini
mampu memerdukan desah suami di ranjang
meski
kuduknya lebih tinggi dari cabe di sela pahamu
sebab segala
sambal dan gulai hilang marwah
bila mereka
tiada.
Muarabungo, 2013
Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi, 26
Oktober 1991. Aktif dalam LPK (Labor Penulis Kreatif). Mahasiswa Sastra
Indonesia Universitas Andalas, Padang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar