Posted by Ramoun Apta at 11.40
Read our previous post
Ia
yang Tak Inginkan Mawar di Hatinya
ia tahu
semua mata
pria padanya.
ia pun tahu.
betapa mawar
yang dimilikinya akan
pudar jua.
sebagaimana warna
yang luntur warna.
ia tahu ia bukan
bunga kertas
yang mekar di taman
atau bunga edelwis
yang abadi
di puncak pegunungan.
ia hanya mawar.
ia tahu. hanya mawar.
mawar yang tumbuh
di vas bunga.
mawar yang merahnya
kelak sirna.
Jalan Kematian
sebelum berangkat ia berkata:
“kita akan melewati
jalan yang sedikit dilalui angin:
jalan kematian!”
tetapi ia ragu, sebenarnya.
ia hanya ingin berdua. tetapi
kekasih hati inginkan bukti
cintanya—yang baka.
hanya mati cinta yang baka.
Mati
ia sudah lama hidup
dan sudah lama pula ingin mati.
tetapi ia tak punya cara
yang cerdas
untuk mati
—untuk abadi di surga.
Doa Sebelum Tidur
sebelum tidur, ia berdoa:
“semanis apapun kau berucap,
bagiku akan tetap menjadi pahit.”
ketika terjaga ia terluka
—tak menemukan apa-apa.
Wanita
ia percaya, hanya dua musim yang ada di dunia:
satu musim pria menyakiti wanita
dan satunya lagi musim wanita disakiti pria.
dua musim yang membuatnya percaya
cinta yang sesungguhnya.
Puisi Cinta
pada mulanya ia berpikir,
keladi akan tumbuh subur jika setiap hari
dirawat, disirami, dikasih pupuk.
tetapi kemudian ia sadar, ternyata ia salah.
yang ia lakukan hanya mempercepat kematian
dan memudahkan keladi itu menjadi busuk.
demikianlah yang ia sadari malam ini.
bahwa puisi yang ditawarkan pria itu
hanyalah sebait kisah malam minggu kelambu.
pria itu hanya tanda kurung yang kaku.
pria itu tak benar-benar memberi puisi
yang manis untuknya.
Gelas Penampung Puisi
puisi yang kau buang saat tinggi hari menemu petang
tidakkah kau terbayang wajah tualang yang terlentang
kejang setelah mematai gelas tuamu di bawah ranjang?
ia tahu
semua mata
pria padanya.
ia pun tahu.
betapa mawar
yang dimilikinya akan
pudar jua.
sebagaimana warna
yang luntur warna.
ia tahu ia bukan
bunga kertas
yang mekar di taman
atau bunga edelwis
yang abadi
di puncak pegunungan.
ia hanya mawar.
ia tahu. hanya mawar.
mawar yang tumbuh
di vas bunga.
mawar yang merahnya
kelak sirna.
Jalan Kematian
sebelum berangkat ia berkata:
“kita akan melewati
jalan yang sedikit dilalui angin:
jalan kematian!”
tetapi ia ragu, sebenarnya.
ia hanya ingin berdua. tetapi
kekasih hati inginkan bukti
cintanya—yang baka.
hanya mati cinta yang baka.
Mati
ia sudah lama hidup
dan sudah lama pula ingin mati.
tetapi ia tak punya cara
yang cerdas
untuk mati
—untuk abadi di surga.
Doa Sebelum Tidur
sebelum tidur, ia berdoa:
“semanis apapun kau berucap,
bagiku akan tetap menjadi pahit.”
ketika terjaga ia terluka
—tak menemukan apa-apa.
Wanita
ia percaya, hanya dua musim yang ada di dunia:
satu musim pria menyakiti wanita
dan satunya lagi musim wanita disakiti pria.
dua musim yang membuatnya percaya
cinta yang sesungguhnya.
Puisi Cinta
pada mulanya ia berpikir,
keladi akan tumbuh subur jika setiap hari
dirawat, disirami, dikasih pupuk.
tetapi kemudian ia sadar, ternyata ia salah.
yang ia lakukan hanya mempercepat kematian
dan memudahkan keladi itu menjadi busuk.
demikianlah yang ia sadari malam ini.
bahwa puisi yang ditawarkan pria itu
hanyalah sebait kisah malam minggu kelambu.
pria itu hanya tanda kurung yang kaku.
pria itu tak benar-benar memberi puisi
yang manis untuknya.
Gelas Penampung Puisi
puisi yang kau buang saat tinggi hari menemu petang
tidakkah kau terbayang wajah tualang yang terlentang
kejang setelah mematai gelas tuamu di bawah ranjang?
sebelum petang tumbang ke seberang padang ilalang
membujuk kawanan enggang untuk pulang bersarang
izinkan aku mengilapkan gelasmu yang hilang garang.
aku akan menampung segala roman yang kau buang
lewat bibirmu yang tegang. meski nada-nada sumbang
kerap terbang elang menukik jatuh berdengkang
ke dalam cerukku yang selengang kerling mata pedang.
menakuti puisimu, menghampiri penyair itu bagai datang
tualang gila yang kerap melompat laksana gusar kijang.
aku senantiasa sabar menampung mereka. aku berbelang
lebih nyalang dan leluasa bergerak mengecoh ketimbang
angin yang menghanyutkan gemuruh anak-anak jilatang
di lucu sungai. puisimu yang hijau terang serupa lubang
ramai dalam tabungku yang bercahaya jangan kau buang
sembarang sebab jerih payahnya hanya milikku seorang.
milikku, si binatang jalang!
Sepotong Senyum dalam Telur Mata Sapi
seperti matahari yang selalu bangun pagi.
seperti mekar bunga di punggung teh mini poci.
seperti cericit kolibri saat menjatuhkan putik sari.
demikian gelagat Renti dihadapan nyonya ini hari.
nun jauh di kedalaman dada Renti, masa kanak-kanak
kerap berganti rimbun semak yang jauh di petak
petak lahan tinggal di ujung jalan
memanggil Renti pulang sejenak
meski hanya untuk sekali bertanak nasi.
tiga tahun pergi hanya sejumlah gaji yang kembali
menemu ibu yang kurus menanti di layar televisi
sepulang ngaji tanpa roti tanpa kopi tanpa puisi
tanpa senyum dalam telur mata sapi bikinan Renti.
Renti rindukan emak. emak pun rindukan Renti.
masa kanak kanak berlarian di benak kedua manusia ini.
tetapi nyonya baru saja kematian suami.
kesedihan nyonya seperti rasa sakit di pangkal gigi.
Renti mesti berpandai-pandai nyanyi.
apakah nyonya akan berbaik hati
membolehkan Renti pulang dan menawarkan gaji
akhir bulan plus bonus tunai ke tiga belas
meski ini tahun bulan ke dua belas dalam masehi
belum genap menyimpulkan?
semoga saja. semoga matahari
dan salam pagi menjernihkan mata nyonya.
Renti memang terlalu dini meminta cuti
sebagaimana puisi yang terbit akhir-akhir ini.
Renti akan pergi. ia siapkan sarapan pagi bersama
sepotong senyum dalam telur mata sapi.
Ramoun Apta
lahir di Muaro Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Penikmat dan penulis puisi dan cerita pendek. Bergiat dalam RKB (Ruang Kerja Budaya), kelompok apresiasi sastra, film dan budaya. Juga aktif dalam LPK (Labor Penulisan Kreatif). Masih tercatat sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar