Comments

Sabtu, 22 November 2014

Puisi-puisi Ramoun Apta, dimuat di koran Kompas 10 Juni 2012

Posted by at 11.28 Read our previous post





Kangkung Selokan

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, lelaki yang tumbuh keliru
di sepanjang lekuk dan ceruk, dan di sepanjang comberanmu.
kolam dan ladang dalam riwayat para leluhur, hanyalah
dongeng di sepanjang malam kosong,
tak menumbuhkan mimpi, tak berbuah impian.

kami tercampak di bandar-bandar, serupa kaleng sarden
bekas makan siang, kemudian tumbuh, menjadi sampah,
memuakkan setiap mata bila terkenang sarapan kemarin pagi.

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, serupa tomat
yang tercampak ke dalam sampah. kuali dan kelaci,
serta mangkuk dan piring bagi nasib kami, hanyalah
sepenggal takdir yang tertidur – takdir yang mendepak kami
keluar dari mimpi sendiri.

Padang, 2011


Energi Mencipta Puisi

mencipta puisi
tak semudah membalikkan cangkang
kura-kura yang melangkah tertatih
menuju sungai

mencipta puisi
seperti menjangkau buah di ujung ranting
tak pandai mengira kerapuhan dahan
alamat badan akan jatuh
dan puisi menjadi luruh

meski kau mampu menghadirkan kata-kata
dan mendakwa kata-kata itu adalah puisi

tetap saja kau hanya berhasil mencipta
kura-kura yang tersandung
dan aliran sungai yang tak berhasil
menemu muara

sementara buah masih riang terjuntai
semisal gerak daun basah
di rantingnya
dahan lebih dulu menjatuhkan engkau

Padang, 2012


Pulanglah, meski Sekedar sebagai Bayangan

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan
orang-orang di beranda menanti engkau datang
meski hujan lupa meninggalkan bercak di permukaan

pulanglah, meski sekedar sebagai bayangan
orang-orang di halaman menunggu engkau pulang
meski di bekas hujan jejakmu menghilang

Padang, 2012

RAMOUN APTA lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template