Posted by Ramoun Apta at 11.28
Read our previous post
Kangkung
Selokan
kami ini
lelaki sayur, lelaki busuk, lelaki yang tumbuh keliru
di sepanjang
lekuk dan ceruk, dan di sepanjang comberanmu.
kolam dan
ladang dalam riwayat para leluhur, hanyalah
dongeng di
sepanjang malam kosong,
tak
menumbuhkan mimpi, tak berbuah impian.
kami
tercampak di bandar-bandar, serupa kaleng sarden
bekas makan
siang, kemudian tumbuh, menjadi sampah,
memuakkan
setiap mata bila terkenang sarapan kemarin pagi.
kami ini
lelaki sayur, lelaki busuk, serupa tomat
yang
tercampak ke dalam sampah. kuali dan kelaci,
serta
mangkuk dan piring bagi nasib kami, hanyalah
sepenggal
takdir yang tertidur – takdir yang mendepak kami
keluar dari
mimpi sendiri.
Padang, 2011
Energi
Mencipta Puisi
mencipta
puisi
tak semudah
membalikkan cangkang
kura-kura
yang melangkah tertatih
menuju
sungai
mencipta
puisi
seperti
menjangkau buah di ujung ranting
tak pandai
mengira kerapuhan dahan
alamat badan
akan jatuh
dan puisi
menjadi luruh
meski kau
mampu menghadirkan kata-kata
dan mendakwa
kata-kata itu adalah puisi
tetap saja
kau hanya berhasil mencipta
kura-kura
yang tersandung
dan aliran
sungai yang tak berhasil
menemu muara
sementara
buah masih riang terjuntai
semisal
gerak daun basah
di
rantingnya
dahan lebih
dulu menjatuhkan engkau
Padang, 2012
Pulanglah,
meski Sekedar sebagai Bayangan
pulanglah,
meski sekedar sebagai bayangan
orang-orang
di beranda menanti engkau datang
meski hujan
lupa meninggalkan bercak di permukaan
pulanglah,
meski sekedar sebagai bayangan
orang-orang
di halaman menunggu engkau pulang
meski di
bekas hujan jejakmu menghilang
Padang, 2012
RAMOUN APTA lahir di Sungai Binjai, Muara
Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar