Posted by Ramoun Apta at 21.28
Read our previous post
Rahasia dari
Perut Dapur
Setelah
dipanggang, caluk mekar
Bagai
rengkah mawar.
Kugerus
ia
Garpu
demi garpu.
Kutabur
ia ke dalam gelimang cabai, bawang
Dan
tomat yang digoreng dengan minyak kelapa.
Lalu
kumasukkan potongan-potongan daun kangkung,
Kusiram
dengan sedikit air dari perut sumur.
Setelah
matang, caluk kangkung
Kulemparkan
ke dalam lidahku.
Di
lidahku, kurasakan serbuk itu pecah
Lumer
ke seluruh lidah, membentur gusi,
Mengoyak
langit-langit,
Mendedah
anak lidah,
Bagai
gelepar udang
Yang
berlarian mengejar ombak.
Juru Masak
Orang Melayu
Akan
datang seseorang
Berkopiah
hitam
Mengaku
juru masak
Datang
mengetuk pintu rumah.
Dan
kepada orang itu
Kelak
burung ruak-ruak
Akan
berhamburan bahagia
Mengepak-ngepakkan
sayap mereka.
Burung
ruak-ruak itu
Akan
menawarkan daging
Keong
emas yang mati
Terinjak
kaki orang dusun di sawah.
Dan
bila masa itu tiba
Akan
banyak orang suci
Mengaku
guru memasak dari dataran tinggi
Datang
meminta induk bumbu padanya.
Memintanya
membeberkan rahasia
Cara
mengolah
Amis
ikan keli
Dan
belut muda dari perut rawa.
Dan
juru masak itu akan berkata sedia.
Ya,
ia akan bersedia
Mengabulkannya.
Tentu
saja,
Apabila
mereka mau menyerahkan
Anak
rusa perawan
Jadi
menu makan malam
Tuan
guru halus dalam dirinya.
Batu Giling Sungai Binjai
Caluk
ini sudah hambar, manisku. Tidak terasa lagi udang.
Telah
tergerus ia bersama angin dingin yang bersilat di hidungmu.
Napasmu
telah sebeku semen, terlindung oleh lumut-lumut hijau
Yang
tumbuh dan mengakar pada pintu lemari es batas waktu.
Dan
tak akan ada lagi pagi
Bersama
goreng ikan asin, kerupuk kemplang,
Tahu
mentah, tempe kecap, terung bakar,
Serta
sayur pucuk ubi yang direbus setengah layu.
Kenapa
kau lebih dulu pergi bersama sejuta kembang,
Bercerek-cerek
air hujan, dan aroma minyak wangi
Milik
orang sembayang di masjid? Tidakkah kau mengerti
Betapa
kita masih memiliki janji mendaki
Gunungan
cabai hijau dengan berbungkah tomat muda bersama?
Kini
aku sendiri, di sudut malam minggu, menunggu blender
Tunai
menggiling bawang merah, bawang putih dan cabai.
Caluk
ini akan kugerus dengan garpu.
Semoga
kenangan pada gemulai tubuhmu yang lincah
Bersilat
di badan batu itu membangkitkan seleraku.
Sambal Caluk
Kau
telah tumpah dalam perut
Rasuk
ke lambung.
Bersama
potongan cabai rawit
Kau
godam ginjal.
Ginjal
memuntahkan cairan
Buih
kristal.
Kepada
urat kau bertukar salam,
Ia
lantas membuka pintu gerbang.
Kau
pun masuk,
Mendedah
segmen darah,
Menyalip
O2
Menggempur
ujung nafas.
Kau
menyelinap ke dalam jantung.
Melalui
jantung kau bergerak
Melesat
menaiki tangga leher
Bagai
menaiki lift
Menuju
ruang atas
Pada
gedung bertingkat.
Kini
kau telah sampai
Di
pucuk kepala.
Kepada
rambut kau berkata,
“Matahari
itu, tunggu saja,
Kelak
akan kutepis panasnya.”
Kau
pun menuju sendawa
Lepas
bersama CO2
Menguap
di udara.
Tiba-tiba,
ada bau udang yang tiba
Sesaat
kau lepas sirna.
Belut Hijau
dari Perut Rawa
Kau
adalah raja ikan dalam daftar menu makanan sungai.
Kau
dihidang bersama cabai hijau yang digiling setengah enggan.
Kusantap
kau di hari hujan, deruk tulangmu menawarkan asin lautan.
Rumpun Padi
dan Daun Mangkuk Basah
Rumpun
padi dan daun mangkuk basah,
Cermai
jatuh berderai mengisi ceruknya.
Rumpun
padi dan daun mangkuk basah,
Kita
bercinta di bawah desir anginnya.
Monyet
betina menenggak madu
Terbayang
cembung basahnya,
Monyet
jantan menelan arak
Terkenang
lengkung hijaunya.
Keong
emas mati muda
Terhidu
lekat getahnya.
Kesaksian
Caluk Kangkung
Di langit fana, rasi bintang
Membungkuk udang.
Bulan daun kangkung
Melambai di tengahnya.
Membungkuk udang.
Bulan daun kangkung
Melambai di tengahnya.
Di meja malam, roti tinggal suara
balam.
Angin gunung yang turun
Menguarkan aroma perkawinan
Antara selai srikaya dan jeruk yang masam.
Angin gunung yang turun
Menguarkan aroma perkawinan
Antara selai srikaya dan jeruk yang masam.
Di lambung waktu
Amerika dan China berperang
Mengeluarkan kebijakan kenaikan pajak
Bagi daging babi yang masuk ke dalam
Perut negara.
Amerika dan China berperang
Mengeluarkan kebijakan kenaikan pajak
Bagi daging babi yang masuk ke dalam
Perut negara.
Aku berada di perut kota.
Di bibir jalan aku berdiri
Mataku melihat mati
Ke arah langit tertinggi.
Di bibir jalan aku berdiri
Mataku melihat mati
Ke arah langit tertinggi.
Aku melihat anak-anak dengan tulang
dengkul menyembul
Duduk diam di atas sisa pembongkaran rumah tua.
Mata mereka bagai redup lampu
Memandang ke arah restoran mahal.
Duduk diam di atas sisa pembongkaran rumah tua.
Mata mereka bagai redup lampu
Memandang ke arah restoran mahal.
Suara mereka sedalam ombak yang
membentur karang.
Keluh kesah mereka bagai menggugah rasa lapar
Burung-burung bangkai yang bercinta
Di balik rimbun alang-alang.
Keluh kesah mereka bagai menggugah rasa lapar
Burung-burung bangkai yang bercinta
Di balik rimbun alang-alang.
Sekelompok orang pria paruh baya
datang.
Berteriak-teriak sembari memukul-mukul panci.
Kuterka, barangkali mereka hendak menyampaikan
Bahasa bimbang dalam perutnya.
Berteriak-teriak sembari memukul-mukul panci.
Kuterka, barangkali mereka hendak menyampaikan
Bahasa bimbang dalam perutnya.
Ketika seorang koki tiba-tiba ikut
menyumbang suara,
Aku bertanya, “Kenapa kau terlihat begitu bergairah?”
Aku bertanya, “Kenapa kau terlihat begitu bergairah?”
Dan ia menjawab,
“Restoran itu telah mendatangkan orang asing
Sebagai juru masaknya!”
“Restoran itu telah mendatangkan orang asing
Sebagai juru masaknya!”
Orang Dusun Di Tanah Pilih
Kami
adalah orang datang. Memasuki kampung orang mati berdarah ini
Kami
mengendap-endap di balik kegelapan hutan burung gagak.
Kami
diburu dengan runcing kulim dan giam
Lantaran
dituduh hendak memberontak dari sultan.
Padahal
kami hanya minta sedikit tanah
Untuk
menanam benih padi yang telah menelurkan tunasnya.
Kami
menjadi iba. Di mata mereka,
Perjuangan
kami selama ini dihargai sebatas rumput gajah.
Kami
menjadi iba. Kematian saudara-saudara kami ternyata
Dibalas
dengan sumpah serapah.
Tentang
Ramoun Apta
Ramoun
Apta,
lahir di Muarobungo, Jambi. Bergiat di Komunitas Seniman Bungo (KSB). Buku
puisi tunggal yang telah terbit berjudul, ‘Pedagang Batu Mustika di Pasar
Raya’.
No. Kontak : 085664711610
Tidak ada komentar:
Posting Komentar