Posted by Ramoun Apta at 21.23
Read our previous post
Pertarungan
Pilpres tahun 2019 mendatang akan dihiasi dengan pertarungan tagar (tanda
pagar). Tagar bisa menjadi senjata untuk melambungkan, dan sekaligus
menjatuhkan citra para pelaku politik. Tagar mampu melakukan itu apabila dibantu
dengan wacana, slogan-slogan, pamflet-pamflet serta meme-meme yang mendukung.
Tagar
dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf Amin, seperti #Jokowi2Periode, #2019TetapJokowi,
dan #Jokowisekalilagi, sebagaimana yang beredar luas di media sosial
akhir-akhir ini terkesan dangkal. Tagar itu tidak memiliki isu yang kuat dalam
menaikkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Tagar tersebut masih lemah lantaran
hanya menonjolkan sisi Jokowi saja, sedangkan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil
presiden mendampingi Jokowi tidak terakomodasi secara simbolis di balik tagar
itu.
Tagar
tersebut hanya bersifat ajakan bagi para pemilih agar tetap mendukung Jokowi
pada Pilpres 2019 nanti. Ia tidak memiliki daya gugah yang dapat menjangkau
hati nurani para pengguna hak pilih agar tetap percaya pada kepemimpinan Jokowi
yang saat ini kian panas dihantam berbagai isu kegagalan.
Bila
kita bandingkan dengan tagar #2019GantiPresiden milik kubu Prabowo, tagar milik
kubu Jokowi di atas tentu saja masih terasa loyo.
#2019GantiPresiden
Kata
‘ganti’ pada tagar #2019GantiPresiden bersifat kata kerja bernada perintah. Ia
memiliki ketegasan sikap untuk mengubah. Adanya penambahan kata ‘presiden’
setelah kata ‘ganti’ itu, tagar tersebut seakan menyatakan maksud bahwa
presiden harus segera diganti, mau tidak mau pokoknya harus, tidak peduli apa
pun alasannya. Hal ini kemudian diperkuat dengan adanya slogan-slogan,
pamflet-pamflet serta meme-meme yang mendukung wacana itu.
Mardani
Ali Sera, politisi PKS sekaligus inisiator gerakan tagar #2019GantiPresiden, mengatakan bahwa tagar tersebut digunakan
untuk mengonsolidasi massa di akar rumput dalam mendukung Prabowo-Sandiaga.
Sebagian
besar massa dari keempat partai pendukung (Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat)
masih enggan membuat pilihan lantaran tokoh idola mereka, seperti Habib Rizieq,
Salim Segaf dan Agus Harimurti Yudhoyono, tidak terpilih sebagai wapres
mendampingi Prabowo. Maka dari itu Mardani berharap tagar #2019GantiPresiden bisa
menyatukan suara yang terbagi itu.
Harus
diakui, diksi yang tergabung pada tagar itu memang merupakan diksi terpilih
yang dirancang secara terukur guna menciptakan efek yang tegas. Ia bermakna
mengganti tanpa kompromi. Saking tegasnya, sebagian pendukung Prabowo-Sandiaga seakan-akan
memahaminya sebagai sebuah ideologi. Seakan-akan mewakili hati nurani rakyat.
Seolah-olah mengatakan, bila pemerintah tidak diganti maka hidup akan terus
pahit.
Tagar
tersebut semakin mengokohkan kakinya ketika disandingkan dengan isu-isu krusial
seperti isu ekonomi, agama, nasionalisme, kemiskinan, menurunnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar, serta sejumlah permasalahan lain yang langsung menyentuh
di jantung rakyat. Pesan inilah yang nantinya bisa menjatuhkan elektabilitas
Jokowi-Ma’ruf Amin.
Dua Konsep
Ada
dua konsep tagar yang setidaknya bisa digunakan oleh tim pemenangan
Jokowi-Ma’ruf Amin untuk mendongkrak elektabilitas pasangan capres-cawapres
yang mereka dukung. Tagar yang pertama yakni tagar yang menyiratkan
program-program kerja yang bakal diusung oleh Jokowi-Ma’ruf Amin. Tagar
tersebut bisa berupa kata kunci strategis yang unik dan memiliki kesan kuat
serta bernilai filosofi yang tinggi.
Tagar
kedua yang bisa dijadikan sebagai model propaganda yakni tagar yang menyiratkan
alasan kenapa rakyat mesti mendukung pasangan ini. Tagar tersebut mesti
menyiratkan alasan-alasan logis kenapa rakyat mesti memenangkan Jokowi-Ma’ruf
Amin sebagai presiden dan wakil presiden pada tahun 2019 nanti.
Melalui
tagar yang kedua itu, pesan yang diinginkan harus tersampaikan secara jelas dan
memiliki kesan mengikat supaya rakyat peserta pilih tidak merasa ragu dalam menentukan
pilihan. Pesan itu harus tersampaikan secara jernih agar bisa menjangkau terutama
sekali para pemilih pemula serta kalangan pemilih yang belum menentukan
pilihan,. Yang lebih penting, tagar tersebut mesti memuat unsur optimisme,
semangat kemajuan dan demi kepentingan bersama.
Dua
konsep tagar di atas setidaknya bisa dijadikan contoh bagi tim pemenangan
Jokowi-Ma’ruf Amin dalam merancang tagar baru yang kiranya bisa menaikan
elektabilitas pasangan capres-cawapres tersebut. Tinggal lagi bagaimana
propaganda yang dilakukan supaya bisa menjadi wacana bersama.
Propaganda
melalui media sosial lebih efektif ketimbang orasi berapi-api sembari
berpanas-panasan di lapangan terbuka. Pengguna media sosial yang semakin tinggi
merupakan lahan produktif yang bisa dijadikan sebagai propaganda. Tim
pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin mesti membungkus promosi tersebut dengan cara
yang menarik serta tidak memunculkan kesan pesimis di hati para pemilih.
Simpulan
Akhir
kata, rumusan tagar bagi Jokowi-Ma’ruf Amin mesti betul-betul diperhitungan. Ia
harus mampu menampilkan kekuatan yang bersumber dari kedua tokoh itu. Citra
tersebut mesti hadir sebagai satu kekuatan yang saling memperkuat.
Jokowi
memiliki sejumlah prestasi sebagai presiden terutama dalam membangun daerah-daerah
tertentu yang selama ini kurang disentuh pembangunan. Sedangkan Ma’aruf Amin dikenal
sebagai tokoh Ulama Islam, Pengurus Besar NU serta ketua MUI.
Menurut
saya, ini merupakan modal yang sangat besar yang mesti dimanfaatkan untuk
menciptakan tagar tandingan itu. (*)
Tentang Penulis
*Ramoun Apta,
penyair dan mahasiswa Pasca Sarjana FIB Unand, Padang. ‘Pedagang Batu Mustika
di Pasar Raya’ adalah buku puisi yang telah terbit.
Alamat : Toko Putra Binjai,
Simpang masuk Pasar Atas,
Sebelah
toko Bungo Makmur,
Seberang kanan Dika Motor,
Muarabungo, Jambi
Email
: ramounapta@gmail.com
No
Hp/WA :
085664711610
Tidak ada komentar:
Posting Komentar