Comments

Senin, 01 Oktober 2018

Tagar untuk Jokowi-Ma’ruf Amin

Posted by at 21.23 Read our previous post

Pertarungan Pilpres tahun 2019 mendatang akan dihiasi dengan pertarungan tagar (tanda pagar). Tagar bisa menjadi senjata untuk melambungkan, dan sekaligus menjatuhkan citra para pelaku politik. Tagar mampu melakukan itu apabila dibantu dengan wacana, slogan-slogan, pamflet-pamflet serta meme-meme yang mendukung.
Tagar dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf Amin, seperti #Jokowi2Periode, #2019TetapJokowi, dan #Jokowisekalilagi, sebagaimana yang beredar luas di media sosial akhir-akhir ini terkesan dangkal. Tagar itu tidak memiliki isu yang kuat dalam menaikkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Tagar tersebut masih lemah lantaran hanya menonjolkan sisi Jokowi saja, sedangkan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi tidak terakomodasi secara simbolis di balik tagar itu.
Tagar tersebut hanya bersifat ajakan bagi para pemilih agar tetap mendukung Jokowi pada Pilpres 2019 nanti. Ia tidak memiliki daya gugah yang dapat menjangkau hati nurani para pengguna hak pilih agar tetap percaya pada kepemimpinan Jokowi yang saat ini kian panas dihantam berbagai isu kegagalan.
Bila kita bandingkan dengan tagar #2019GantiPresiden milik kubu Prabowo, tagar milik kubu Jokowi di atas tentu saja masih terasa loyo.
#2019GantiPresiden
Kata ‘ganti’ pada tagar #2019GantiPresiden bersifat kata kerja bernada perintah. Ia memiliki ketegasan sikap untuk mengubah. Adanya penambahan kata ‘presiden’ setelah kata ‘ganti’ itu, tagar tersebut seakan menyatakan maksud bahwa presiden harus segera diganti, mau tidak mau pokoknya harus, tidak peduli apa pun alasannya. Hal ini kemudian diperkuat dengan adanya slogan-slogan, pamflet-pamflet serta meme-meme yang mendukung wacana itu.
Mardani Ali Sera, politisi PKS sekaligus inisiator gerakan tagar #2019GantiPresiden,  mengatakan bahwa tagar tersebut digunakan untuk mengonsolidasi massa di akar rumput dalam mendukung Prabowo-Sandiaga.
Sebagian besar massa dari keempat partai pendukung (Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat) masih enggan membuat pilihan lantaran tokoh idola mereka, seperti Habib Rizieq, Salim Segaf dan Agus Harimurti Yudhoyono, tidak terpilih sebagai wapres mendampingi Prabowo. Maka dari itu Mardani berharap tagar #2019GantiPresiden bisa menyatukan suara yang terbagi itu.
Harus diakui, diksi yang tergabung pada tagar itu memang merupakan diksi terpilih yang dirancang secara terukur guna menciptakan efek yang tegas. Ia bermakna mengganti tanpa kompromi. Saking tegasnya, sebagian pendukung Prabowo-Sandiaga seakan-akan memahaminya sebagai sebuah ideologi. Seakan-akan mewakili hati nurani rakyat. Seolah-olah mengatakan, bila pemerintah tidak diganti maka hidup akan terus pahit. 
Tagar tersebut semakin mengokohkan kakinya ketika disandingkan dengan isu-isu krusial seperti isu ekonomi, agama, nasionalisme, kemiskinan, menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta sejumlah permasalahan lain yang langsung menyentuh di jantung rakyat. Pesan inilah yang nantinya bisa menjatuhkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin.
Dua Konsep
Ada dua konsep tagar yang setidaknya bisa digunakan oleh tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin untuk mendongkrak elektabilitas pasangan capres-cawapres yang mereka dukung. Tagar yang pertama yakni tagar yang menyiratkan program-program kerja yang bakal diusung oleh Jokowi-Ma’ruf Amin. Tagar tersebut bisa berupa kata kunci strategis yang unik dan memiliki kesan kuat serta bernilai filosofi yang tinggi.
Tagar kedua yang bisa dijadikan sebagai model propaganda yakni tagar yang menyiratkan alasan kenapa rakyat mesti mendukung pasangan ini. Tagar tersebut mesti menyiratkan alasan-alasan logis kenapa rakyat mesti memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden pada tahun 2019 nanti.
Melalui tagar yang kedua itu, pesan yang diinginkan harus tersampaikan secara jelas dan memiliki kesan mengikat supaya rakyat peserta pilih tidak merasa ragu dalam menentukan pilihan. Pesan itu harus tersampaikan secara jernih agar bisa menjangkau terutama sekali para pemilih pemula serta kalangan pemilih yang belum menentukan pilihan,. Yang lebih penting, tagar tersebut mesti memuat unsur optimisme, semangat kemajuan dan demi kepentingan bersama.
Dua konsep tagar di atas setidaknya bisa dijadikan contoh bagi tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam merancang tagar baru yang kiranya bisa menaikan elektabilitas pasangan capres-cawapres tersebut. Tinggal lagi bagaimana propaganda yang dilakukan supaya bisa menjadi wacana bersama.
Propaganda melalui media sosial lebih efektif ketimbang orasi berapi-api sembari berpanas-panasan di lapangan terbuka. Pengguna media sosial yang semakin tinggi merupakan lahan produktif yang bisa dijadikan sebagai propaganda. Tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin mesti membungkus promosi tersebut dengan cara yang menarik serta tidak memunculkan kesan pesimis di hati para pemilih.
Simpulan
Akhir kata, rumusan tagar bagi Jokowi-Ma’ruf Amin mesti betul-betul diperhitungan. Ia harus mampu menampilkan kekuatan yang bersumber dari kedua tokoh itu. Citra tersebut mesti hadir sebagai satu kekuatan yang saling memperkuat.
Jokowi memiliki sejumlah prestasi sebagai presiden terutama dalam membangun daerah-daerah tertentu yang selama ini kurang disentuh pembangunan. Sedangkan Ma’aruf Amin dikenal sebagai tokoh Ulama Islam, Pengurus Besar NU serta ketua MUI.
Menurut saya, ini merupakan modal yang sangat besar yang mesti dimanfaatkan untuk menciptakan tagar tandingan itu. (*)


Tentang Penulis
*Ramoun Apta, penyair dan mahasiswa Pasca Sarjana FIB Unand, Padang. ‘Pedagang Batu Mustika di Pasar Raya’ adalah buku puisi yang telah terbit.

Alamat                         : Toko Putra Binjai,
  Simpang masuk Pasar Atas,
              Sebelah toko Bungo Makmur,
  Seberang kanan Dika Motor,
  Muarabungo, Jambi
Email                           : ramounapta@gmail.com
No Hp/WA                 : 085664711610
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template