Posted by Ramoun Apta at 12.43
Read our previous post
Pada suatu malam berdebu, di suatu
Minggu kota Gigolacur, trotoar tak pernah bercerita tentang apa dan bagaimana
caranya dua ekor tikus bisa saling kejar-mengejar, meningkahi kerikil yang
berserakan, menyusuri got-got yang bau, dan kemudian bergerumul seperti hendak
saling membunuh. Begitu juga dengan tiang listrik yang kesepian menimang
embun—yang sebenarnya tak patut juga disebut embun karena ia sedikit
berminyak—pada pagar pembatas di taman itu, seperti hendak melepaskan kabel-kabel yang
terentang memberat.
Tong-tong
kotor berbelatung dengan sampah yang berserakan di luarnya, bangku-bangku
kosong yang patah kakinya, dan pecahan beling bekas botol minuman beralkohol.
Segala yang tergambar seakan-akan hendak mengisahkan sesuatu. Sesuatu yang
serupa gang buntu. Ya! Sesuatu yang kemudian melambung dan merasuki ruh
percintaan antara Kau dan Aku.
Malam
itu, Kau dan Aku bertengkar.
“Aku
benci kau sepenuh hati!”
“Kenapa
benci? Karena aku gigolo, begitu?”
“Bukan
hanya itu. Kau menjalin hubungan khusus dengan tante itu.”
“Wajar
saja kalau aku menjalin hubungan khusus dengan tante itu. Kau sendiri pun tahu.
Bahwa sebagai gigolo, aku mesti menjalin suatu hubungan yang spesial kepada
semua pelangganku. Bahkan kepada setiap penyewaku. Kalau tidak, aku mana bisa
laku!”
Mendadak,
Kau pun menjadi brutal.
“Kau
jangan berkilah ucapan! Seperti hiperbola puisi saja bahasa yang kau sampaikan.
Kau pikir ini pelajaran menulis sajak. Kita bukan lagi anak SMA. Pelajaran
menulis sajak hanya ada di SMA. Aku sudah memiliki banyak bukti, jangan
berkilah, kau selingkuh!”
“Bukti?
Dalam bentuk apa? Sajak?! Aku bukan seorang nyinyir yang pandai mengelola
bahasa buat menipu orang. Lagi pula, memang sudah begini tuntutan aku pekerja.
Mesti akrab dan berpura-pura setia kepada setiap pelanggan. Kau sendiri,
bukannya kau itu seorang pelacur? Tentu kau juga memiliki hubungan khusus
dengan setiap lelaki yang membokingmu. Bahkan, mungkin lebih dari itu!”
“Aku
menjadi pelacur bukan kerana aku mencintai kelamin laki-laki. Tapi karena aku
tahu diri. Sebagai perempuan sejati aku mesti menemu kepuasan hidup. Dan
melacur, selain dari pada aku mendapatkan kepuasan, aku juga bisa meraup
sejumlah uang. Uang adalah segalanya. Memang cinta begitu sulit dimengerti.
Tetapi, kau tahu, meskipun aku ini Pelacur, tiada selain dari pada kau di
hatiku. Aku tidak selingkuh!”
“Begitu
juga aku. Bekerja sebagai gigolo bukan berarti aku mesti menjadi budak
tante-tante binal seperti yang kau tuduhkan itu. Aku ini laki-laki sehat gizi
dan penuh energi. Setiap malam butuh ranjang. Bagaimana caranya kita bisa
bermesraan sementara kau berkelana di ranjang orang?! Itu sebabnya aku jadi
gigolo. Selain bisa dengan bebasnya bergaya di banyak ranjang, aku juga bisa
mendapat gepokan uang. Bahkan lebih banyak dari pada kau! Jangan kau sembarang
menuduh aku berpaling terhadap kau. Mestinya kau tahu, bahwa setiap malam di
bukan ranjang kita itu, wajah kaulah yang selalu terbayang di kepalaku. Kau
adalah kekasihku!”
“Kau
begitu pandai berkilah bahasa. Kau adalah penyair generansi muda berbakat!”
“Ini
bukan soal berkilah bahasa. Ini soal kebenaran dan realita. Kenapa kau begitu
nyinyir sebut aku penyair? Aku ini bukan penyair! Memang banyak penyair yang
bergaya seperti aku. Akan tetapi, kau tahu, penyair itu, beraninya cuma merayu
perempuan. Tetapi ketika ditanya perihal kebenaran perasaan, ia malah tak
berani ungkapkan cinta. Ketika diajak bercinta, ia selalu mengelak sembari
mengumbar alasan yang tak sesuai logika. Sedangkan aku ...”
“Kenapa?”
Kau
dan Aku pun sejenak berdiam. Pertengkaran yang mengambang entah ke mana. Sesaat
kemudian, Kau mendongak ke atas. Di langit-langit kamar terlihat foto berukuran
2x1 Meter seorang tante yang sedang menselonjorkan kakinya. Tubuhnya yang
gelombang bebukitan, pinggulnya yang lekuk pegunungan. Tampak begitu indah
pahanya bila dilihat sambil tiduran. Melihat foto itu, Kau pun marah
sejadi-jadinya.
“Lihat!
Lihat itu! Kau pajang foto tante itu. Itu buktinya. Masih juga kau tidak
mengaku perihal hubunganmu? Hanya seorang yang terpaut dalam suatu ikatanlah
yang mau berluang waktu memajang foto seperti itu di langit-langit kamarnya.
Kau pendusta. Kau selingkuh!”
“Sekali
lagi kukatakan, aku tidak punya hubungan spesial dengan tante itu selain dari
pada antara seorang pekerja dengan pelanggan. Di atas boleh ada foto, tetapi
aku di bawah tak memiliki perasaan apa-apa. Hanya kau! Jangan cuma karena foto
itu lantas kau mendakwa aku sekenanya. Kau dakwa aku selingkuh. Tetapi kau
sendiri?”
“Kenapa,
aku?”
“Kau
sendiri... Aku pernah melihat di dalam tasmu tersimpan selembar foto seorang
lelaki. Setelah kuselidiki, aku tahu lelaki itu sering memboking dan mengajakmu
bercinta. Seringkali aku melihat kau berangkulan tangan dengannya di sepanjang
jalan selayaknya dulu kita kali pertama pacaran. Bukankah kau itu yang
berpaling dariku? Kau sembarang tuduh aku. Tetapi ternyata, sebenarnya kaulah
yang selingkuh.”
“Dasar,
penyair! Penyair nyinyir!”
“Kau
itu yang penyair nyinyir! Kau tuduh aku, tetapi kaulah yang sebenarnya
berpaling! Kau yang keliru menulis sajak, tetapi kau salahkan aku si tinta yang
tak berdaya!”
“Apa?
Kau dakwa aku yang pandai berkilah bahasa? Anjing kau! Binatang laknat kau!
Segala sumpah serapah ada pada kau! Kau kira aku sudi menukar posisiku sebagai
pelacur menjadi seorang penyair? Kau tahu, lebih mati sebagai babi dari pada
menjadi penyair yang sepanjang hidupku begitu miskin! Aku rela mati membenamkan
diri di sungai musi yang dari hari ke hari di sepanjang tepiannya semakin
dipenuhi ceceran minyak mentah itu. Kaulah yang penyair itu! Dasar, gembel
hitam kau!”
“Sudah
nyata terbukti bahwa kaulah yang berpaling itu! Bukan aku!”
“Kau
yang berpaling!”
“Kau
itu!”
“Kau!”
“Kau!”
“Kau!”
“Kau
yang selingkuh itu, Anjing!”
Kau
pun semakin cemburu, dan mendakwa Aku sebagai seekor Anjing yang tak setia.
“Apa?
Kau sebut aku Anjing? Sekali lagi kau sebut, kutampar kau!”
“Anjing!”
“Kau
yang anjing itu, Anjing!”
“Bapak
kau, ibu kau, Anjing semua!”
“Sekali
lagi kau maki orang tuaku, Anjing, kubunuh kau!”
“Bunuh!
Ayo, bunuh aku!”
“Kau!”
“Ayo
sini, maju kau, Anjing!”
“Mari
kita lihat seberapa beraninya kau!”
Kau
pun menantang Aku berkelahi.
“Ini,
tinjuku ke wajahmu!”
“Lengan
kiriku menangkis seranganmu. Kuhentak perutmu dengan lututku!”
“Oh,
kutangkis lututmu. Terimalah! Ini kakiku di kepalamu. Mati kau!”
“Kutangkap
kakimu. Tinjuku ke wajahmu. Remuk!”
“Tinju
sebesar tunggul ubi kayu itu kau kira bisa meremukkan wajahku?”
“Meskipun
kecil, ini tinju lajunya seperti bus Medan-Jakarta. Kena hidungmu!”
“Oh,
kau pikir kau bisa mengenai hidungku? Ini tanganku, seperti ular yang lihai
melingkar di pagar. Kupelintir kakimu, menjerit kau! Jatuh kau! Kelamin kau
kutendang! Perut kau kupijak! Mampus kau! Mati anjing kau!”
“Kau
hendak memelintir kakiku dan menjatuhkanku sementara tangan kau yang satu
terkunci di leherku? Kau itu yang mati anjing! Ini tendanganku. Mati kau,
penyair!”
“Kau?!”
Entah
kebenaran terluka, entah karena kecewa, tiba-tiba saja Kau menjadi diam.
Seperti burung pungguk yang kehilangan bulan, Kau memalingkan wajahmu. Dan
menyembunyikannya dengan ke dua tangan. Sementara itu, melihat Kau yang berubah
tingkah begitu, Aku pun segera memilih menjadi dungu.
“Kau
selingkuh!”
“Kau,
bukan Aku!”
“Aku
ini pelacur!”
“Aku
ini gigolo!”
“Tante
itu buktinya!”
“Tante
itu tak lebih dari seorang pelangganku.”
“Pelanggan
nenek kau. Foto itu buktinya!”
“Kau
sendiri, foto lelaki dalam tas itu!”
“Ini
bukan milikku!”
“Maksudmu?
Milik istrinya yang memintamu simpan foto itu? Kau pikir aku ini bodoh!”
“Memang
bodoh!”
“Kau?!”
“Sudah
kukatakan, foto ini bukan milikku! Kau itu yang selingkuh!”
“Kenapa
kau masih tak percaya aku?”
“Karena
kau penyair!”
“Aku
bukan penyair, nyinyir!”
“Lantas,
siapa kau?”
“Anjing!”
Padang, 2012
Terbit di koran Haluan Minggu, 08 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar