Comments

Sabtu, 22 November 2014

Cerpen Ramoun Apta: Melis

Posted by at 12.27 Read our previous post


“Kapan kita kawin, bang?”

“Kawin? Walah, bukannya sudah?”

“Maksud Saya, menikah?”

***

Sejak kematian bapaknya, Melis mesti mencari nafkah seorang diri. Ibu Melis sudah lebih dulu meninggal dunia dari bapaknya. Lebih sepuluh tahun yang lalu. Tak ada yang mem­pedulikan nasib Melis. Semua keluarga, baik dari ibu, mau­pun bapak, telah melupakan Melis. Sejak orang tuanya itu menikah. Keluarga bapaknya, dan keluarga ibunya, tak me­restui pernikahan kedua orang tua Melis. Lantaran pernah saling cekcok perihal tanah. Tanah mereka yang saling berdempetan, yang hingga kini masih sengketa. Melis benar-benar hidup seorang diri.

Pekerjaan Melis adalah sebagai seseorang yang selalu dipanggil Saya. Saya adalah sebuah kelompok kerja. Sema­cam komunitas. Telah tiga tahun berdikari. Kelompok yang dikomandoi oleh sese­orang lelaki pensiunan tentara perang Aceh. Perang yang telah membuat tubuh lelaki itu cacat. Wajahnya rusak seperti lumuran dempul pada mobil yang belum diamplas. Perang yang ternyata di balik tragedinya itu terjadi politik kotor yang busuk. Dan seketika pulang dari medan perang, lelaki itu pensiun. Lalu mendirikan Saya. Tak ada yang tahu pasti apa alasan lelaki itu mendirikan Saya. Yang jelas, sebuah kelompok kerja telah berdiri. Kelompok yang mempekerjakan para perempuan muda. Dan cantik. Cantik seperti Melis. Setiap perempuan yang bekerja dalam kelompok yang sudah seperti perusahaan itu, semuanya dipanggil Saya.

Pekerjaan Melis sederhana saja, yakni melayani setiap panggilan yang membutuhkan jasa Saya. Jasa hubungan singkat. Setiap panggilan yang masuk di kantor Melis, adalah dari para lelaki. Sebab, yang membutuhkan jasa hubungan singkat hanyalah para lelaki. Umumnya mereka lelaki tua. Umurnya antara 40-47 tahun. Namun tak jarang pula panggilan yang masuk dari lelaki yang sudah keparat. Sudah uzur. Sudah tua-setua kucing kurus kering yang sebentar lagi akan jatuh ke sungai dan mati. Lelaki hidung belang.

Perjumpaan pertama Melis dengan lelaki yang menjadi kekasihnya kini adalah dari Saya. Waktu itu, entah hari apa waktu itu, seorang lelaki bersuara salju menelepon dan meminta jasa Saya untuk mendatangkan seorang perem­puan ke rumahnya. Kebetulan yang belum mendapat pelanggan waktu itu adalah Melis. Maka, Melislah yang mendapat tugas untuk pergi melayani permintaan itu. Melis pun berangkat. Seperti biasa, Pak Asun selalu yang mengan­tarkan pesanan perempuan menuju lokasi. Pak Asun adalah satu-satunya lelaki pekerja di kelompok Saya. Ia bertugas sebagai tukang antar pesanan perempuan. Ia mendapat gaji berdasarkan potongan persen dari setiap perempuan yang diantarnya. Sekali antar biasanya Pak Asun mendapat upah sekitar Rp34 ribu. Namun, setiba di rumah pemesan, biasanya Pak Asun akan mendapat uang tip dari si pemesan. Sekurang-kurang­nya uang sebesar Rp50 ribu. Ia te­ri­ma. Upah yang luma­yan. Itulah se­babnya Pak Asun tetap bertahan be­kerja di kelompok Saya, mes­kipun sebagai tukang antar pesanan perempuan. Melu­pakan profesi lamanya seba­gai tukang ojek simpang.

Melis agak gugup ketika melihat lelaki yang memesan dirinya itu. Dalam pikirannya, jarang-jarang ada lelaki yang memesan perempuan di kantor Saya, seperti lelaki ini. Yang dikira-kira umurnya sekitar 30 tahun. Kaya. Rumahnya besar. Sebesar gedung Dekanat Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, yang besarnya kira-kira, 25x21 Meter itu. Dan tinggi seperti gedung Rektorat Universitas Andalas juga, kira-kira 13 Meter.

Tanpa berlama-lama memanjang dan melebarkan pikirannya, Melis pun segera masuk rumah, dan dengan panduan lelaki pemesan itu, melis langsung menuju kamar. Tanpa banyak basa-basi, Melis dan lelaki pemesan itu pun segera memulai adegan percintaan.

Melis mengetahui nama lelaki itu setelah adegan percintaan mereka tuntas. Remus nama lelaki itu. Lelaki yang matanya sipit-sesipit mata melis saat melihat cahaya asing bertahta mahkota intan di mata lelaki itu. Tatapan mereka pun saling baku hantam. Menjatuhkan tubuh mereka untuk kembali dalam sebuah adegan percintaan. Jarang sekali Melis merasakan ada gairah dalam dirinya. Gairah lain. Gairah yang ditumbuhkan oleh lelaki itu. Oleh Remus.

***

Entah kapan pastinya tum­buhan cinta menjalar di hati Melis dan Remus. Yang men­jelma akar timun yang berhasrat mencapai puncak tiang bambu. Ikatan mereka semakin kuat, sesering pertemuan mereka dalam adegan percintaan. Dan sampai pada suatu kali, entah disebabkan oleh angin apa, tiba-tiba Remus meminta Melis untuk menjadi kekasihnya.

Sungguh Melis terkejut mendengar ajakan Remus yang memintanya agar menjadi kekasih lelaki yang sering memesan dirinya itu. Melis seakan-akan mendengar lagi omong kosong almarhum Bapaknya dulu. Bapak yang pernah mengiyakan permintaan Melis sewaktu Melis ingin dibelikan sekotak mainan Power Ranger. Power Ranger yang berwarna merah. Lebih perkasa. Kakinya kekar-sekekar ubi kayu yang sudah berumur setahun. Tangannya berisi seperti botol bir yang selalu diminum Bapak setiap pulang kerja. Dan yang pastinya mainan itu sangat keren.

Tetapi nyatanya Bapaknya menipu. Tak ada dibelikan mainan Power Ranger itu. Sebab Bapak mengiyakan permitaan Melis waktu itu lantaran malas mendengar rengekan Melis yang kalau tak diiyakan pasti bakal semakin menjadi-jadi. Bisa mengga­duhkan seisi kantor. Bapak menipu Melis.

Melis menanggapi permin­taan Remus penuh dengan rasa terkejut. Tak percaya. Sebab, mana mungkin ada lelaki, seorang lelaki kaya pula, mencintai ‘betina anjing latin penuh kejutan di atas ranjang’ seperti dirinya. Melis tak percaya. Benar-benar tak. Lain halnya kalau Remus berkata akan mengontrak dirinya selama 3 tahun, bisa jadi Melis percaya. Sesuai sekali dengan profesi yang digelutinya sebagai sebagai seseorang yang selalu dipanggil Saya. Pekerja jasa hubungan singkat.

Remus memaklumi rasa tak percaya Melis. Dalam pikirannya, barangkali Melis baru kali ini ditawari dengan permintaan yang cukup serius seperti itu. Permintaan menjadi seorang kekasih. Bukan hanya sebagai pemuas nafsu. Dari gelagat yang seperti kucing berusaha mengambil ikan goreng di dalam tudung di atas meja makan, tampaknya, Remus tak patah keladi. Ia pun mengulang permintaanya dengan lebih serius lagi. Permintaan yang sungguh sangat serius. Permintaan yang menjadi sangat asing bagi diri Melis.

Melis menangkap permin­taan Remus yang serius. Dan mencernanya dengan serius pula. Seserius paksaan Bapak­nya dulu pada suatu malam. Malam yang tragedi. Malam hujan. Hujan yang turun dengan sangat ganas. Hujan yang pernah mengisahkan kepiluan domba putih tentang hujan yang melunturi aroma tubuhnya. Aroma lain yang sangat disukai kekasih.
Waktu itu, Bapak Melis pulang larut malam. Sebotol bir tak terpegang di jemari Bapaknya yang lunglai lantaran Bapaknya itu mabuk berat. Entah kenapa, tiba-tiba sebotol bir itu terlepas. Dan tangan Bapak yang besar itu pun jatuh tepat di dada Melis. Bir brengsek itu telah membuat Bapak mabuk berat. Di dada Melis, tangan Bapak tiba-tiba menerobos masuk ke dalam belahan baju Melis. Melis terarau. Melis berusaha mengelak dari serakah serobot lahan tangan Bapaknya yang besar itu. Sama besarnya dengan botol bir tadi sebelum jatuh.

Melis berhasil melepaskan diri dari cengkraman tangan Bapaknya. Tetapi baju Melis sudah terlanjur mengembang. Sobek besar pada bagian dada. Semakin jelas semua. Dan Bapak yang mabuk berat itu, ganas menatap, dan meracau berujar kepada Melis: Melis, apa kau tega melihat Bapak begini? Dirundung dalam kesepian yang dalam, sedalam saku celana ini?

Tak dapat mengelak, Melis pun terpaksa mandi air bir panas malam itu. Bir yang paling panas. Bir yang dulu dalam kenangannya telah membuat ibunya mati, akibat ditampar Bapaknya yang mabuk setelah menghabiskan lebih 5 botol bir. Dengan bir yang sama pula kelopak gadisnya dituntaskan Bapak. Masih lekat peristiwa waktu itu di tubuhnya hingga kini.

Melis dengan perasaan senang yang melipatgandakan gembira tentu saja menerima permintaan Remus. Permintaan agar menjadi kekasih Remus. Maka sejak saat itu, yang hanya disaksikan beberapa lembar uang ratusan ribu, Melis dan Remus pun resmi menjadi sepasang kekasih. Sejarah baru dalam kehidupan Melis.

***

Kabar baik itu Melis ceritakan kepada Nuis. Teman akrab Melis yang sama-sama bekerja di kantor Saya. Dengan mengisahkan cerita yang sesungguhnya benar-benar terjadi, Melis berusaha meyakinkan Nuis. Nuis terkejut mendengar cerita dari Melis. Nuis tak percaya. Dalam pikirannya, Melis hanya mengarang-ngarang cerita. Sebab, mana ada lelaki yang mau mencintai perempuan yang bekerja di kelompok Saya. Mencintai seorang ‘betina anjing latin penuh kejutan di atas ranjang’ seperti Melis. Tetapi, Melis tak pernah bohong kalau sedang berkisah tentang dirinya kepada Nuis.

Nuis sakit hati. Nuis tak rela dan tak akan mem­biarkan Melis berse­nang-senang dengan Remus. Nuis tak ingin Melis bisa menikmati kesenangan di dunia ini. Nuis tak ingin kalau Melis lebih dari dirinya. Nuis beranggapan, dirinyalah yang pantas bercinta-kasih dengan Remus. Meskipun Nuis be­lum pernah bertemu dengan Remus, tetapi, dari pemaparan Melis, Nuis yakin bahwa Remus adalah lelaki impiannya. Lelaki yang benar-benar kaya. Orang gagah. Dan bisa mencintai dirinya sepenuh hati. Seperti kisah percintaan kantau yang seringkali ditontonnya pada film remaja di salah satu Stasiun Televisi itu. Kisah cinta remaja yang hampir serupa dengan kisah cinta Melis. Percintaan yang mustahil terjadi, pikir Nuis.

Nuis berniat menghancur­kan hubungan percintaan Melis dan Remus. Nuis ingin ber­bicara dengan Remus. Nuis akan merusak kisah percintaan Melis. Nuis sengaja duduk di dekat telepon, menunggu dering telepon dari Remus untuk Melis.

Telepon dari Remus yang ditunggu-tunggu Nuis pun tiba. Dengan jantung yang berdegup kencang seperti pelarian seorang napi dari penjara, Nuis angkat telepon itu.

Nuis dan Remus pun jatuh dalam percakapan panjang yang juga melebar. Nuis mengumpat Melis. Nuis mengatakan segala hal buruk tentang Melis. Hal yang jauh sekali dari kepribadian Melis. Nuis bilang: Melis itu sudah menikah sepuluh kali! Nuis bilang: Melis itu sekarang masih bersuami! Nuis bilang: Melis itu belum cerai dari suaminya si dantre, preman besar yang bertato ganas di punggung.

Remus emosi. Remus memanas. Remus marah tak tentu arah. Dari mulut Remus, tiba-tiba saja keluar kata-kata akan meninggalkan Melis. Remus benar-benar marah. Kemarahan remus dirasakan melebihi suasana perang aceh sewaktu Remus masih menjadi tentara dulu. Kemarahan yang dirasakan Remus sewaktu teman karibnya si Anatona terjebak dalam sebuah ledakan, dan mati. Teman yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.

Namun kemarahan Remus tak sebegitu lama. Setelah selesai hubungan telepon-menelpon amarah dengan Nuis tadi, Remus tiba-tiba jadi tersadar kembali dalam emosinya. Tiba-tiba saja Remus berubah pikiran menjadi yakin dan percaya terhadap Melis. Remus berpikiran bahwa bukan pribadi Melis seperti yang disampaikan Nuis tadi. Dalam pikiran Remus, Melis pasti jujur dan akan bicara kalau seandainya dirinya masih berstatus istri orang lain. Tetapi, dalam pikiran Remus, ada sesuatu yang terbesit begitu saja, entah kenapa. Mungkin perbincangan dengan Nuis tadi sedikit-banyak membekas juga dalam diri Remus. Sedikit yang berarti.

***

Seperti biasa, Melis dan Remus berlangsung dalam adegan percintaan. Adegan yang sangat lain dirasakan Melis bila sedang melakukannya dengan sang kekasih.

Sebab, jarang sekali Melis merasakan ada gairah dalam dirinya. Gairah lain. Gairah yang hanya bisa ditumbuhkan oleh Remus. Mata Remus yang sipit-sesipit mata Melis saat melihat cahaya asing bertahta mahkota intan yang bercahaya di mata Remus, menjatuhkan Melis dalam kebahagiaan yang panjang. Namun adegan percin­taan ini tidak berlangsung lama. Entah apa alasan Remus segera menghentikan dan menyele­saikan adegan waktu itu.

“Kapan kita kawin, bang?”

“Kawin? Walah, bukannya sudah?”

“Maksud Saya, menikah?”

“Menikah?”

Tunas Mandiri, 2011


Terbit di koran Haluan, 21 Agustus 2011
Link: http://www.harianhaluan.com/index.php/seni/7958-melis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template