Posted by Ramoun Apta at 12.27
Read our previous post
“Kapan
kita kawin, bang?”
“Kawin?
Walah, bukannya sudah?”
“Maksud
Saya, menikah?”
***
Sejak
kematian bapaknya, Melis mesti mencari nafkah seorang diri. Ibu Melis sudah
lebih dulu meninggal dunia dari bapaknya. Lebih sepuluh tahun yang lalu. Tak
ada yang mempedulikan nasib Melis. Semua keluarga, baik dari ibu, maupun
bapak, telah melupakan Melis. Sejak orang tuanya itu menikah. Keluarga
bapaknya, dan keluarga ibunya, tak merestui pernikahan kedua orang tua Melis.
Lantaran pernah saling cekcok perihal tanah. Tanah mereka yang saling
berdempetan, yang hingga kini masih sengketa. Melis benar-benar hidup seorang
diri.
Pekerjaan
Melis adalah sebagai seseorang yang selalu dipanggil Saya. Saya
adalah sebuah kelompok kerja. Semacam komunitas. Telah tiga tahun berdikari.
Kelompok yang dikomandoi oleh seseorang lelaki pensiunan tentara perang Aceh.
Perang yang telah membuat tubuh lelaki itu cacat. Wajahnya rusak seperti
lumuran dempul pada mobil yang belum diamplas. Perang yang ternyata di balik
tragedinya itu terjadi politik kotor yang busuk. Dan seketika pulang dari medan
perang, lelaki itu pensiun. Lalu mendirikan Saya. Tak ada yang tahu
pasti apa alasan lelaki itu mendirikan Saya. Yang jelas, sebuah
kelompok kerja telah berdiri. Kelompok yang mempekerjakan para perempuan muda.
Dan cantik. Cantik seperti Melis. Setiap perempuan yang bekerja dalam kelompok
yang sudah seperti perusahaan itu, semuanya dipanggil Saya.
Pekerjaan
Melis sederhana saja, yakni melayani setiap panggilan yang membutuhkan jasa Saya.
Jasa hubungan singkat. Setiap panggilan yang masuk di kantor Melis, adalah dari
para lelaki. Sebab, yang membutuhkan jasa hubungan singkat hanyalah para
lelaki. Umumnya mereka lelaki tua. Umurnya antara 40-47 tahun. Namun tak jarang
pula panggilan yang masuk dari lelaki yang sudah keparat. Sudah uzur. Sudah
tua-setua kucing kurus kering yang sebentar lagi akan jatuh ke sungai dan mati.
Lelaki hidung belang.
Perjumpaan
pertama Melis dengan lelaki yang menjadi kekasihnya kini adalah dari Saya.
Waktu itu, entah hari apa waktu itu, seorang lelaki bersuara salju menelepon
dan meminta jasa Saya untuk mendatangkan seorang perempuan ke
rumahnya. Kebetulan yang belum mendapat pelanggan waktu itu adalah Melis. Maka,
Melislah yang mendapat tugas untuk pergi melayani permintaan itu. Melis pun
berangkat. Seperti biasa, Pak Asun selalu yang mengantarkan pesanan perempuan
menuju lokasi. Pak Asun adalah satu-satunya lelaki pekerja di kelompok Saya.
Ia bertugas sebagai tukang antar pesanan perempuan. Ia mendapat gaji
berdasarkan potongan persen dari setiap perempuan yang diantarnya. Sekali antar
biasanya Pak Asun mendapat upah sekitar Rp34 ribu. Namun, setiba di rumah
pemesan, biasanya Pak Asun akan mendapat uang tip dari si pemesan.
Sekurang-kurangnya uang sebesar Rp50 ribu. Ia terima. Upah yang lumayan.
Itulah sebabnya Pak Asun tetap bertahan bekerja di kelompok Saya,
meskipun sebagai tukang antar pesanan perempuan. Melupakan profesi lamanya
sebagai tukang ojek simpang.
Melis
agak gugup ketika melihat lelaki yang memesan dirinya itu. Dalam pikirannya,
jarang-jarang ada lelaki yang memesan perempuan di kantor Saya,
seperti lelaki ini. Yang dikira-kira umurnya sekitar 30 tahun. Kaya. Rumahnya
besar. Sebesar gedung Dekanat Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, yang
besarnya kira-kira, 25x21 Meter itu. Dan tinggi seperti gedung Rektorat
Universitas Andalas juga, kira-kira 13 Meter.
Tanpa
berlama-lama memanjang dan melebarkan pikirannya, Melis pun segera masuk rumah,
dan dengan panduan lelaki pemesan itu, melis langsung menuju kamar. Tanpa
banyak basa-basi, Melis dan lelaki pemesan itu pun segera memulai adegan
percintaan.
Melis
mengetahui nama lelaki itu setelah adegan percintaan mereka tuntas. Remus nama
lelaki itu. Lelaki yang matanya sipit-sesipit mata melis saat melihat cahaya
asing bertahta mahkota intan di mata lelaki itu. Tatapan mereka pun saling baku
hantam. Menjatuhkan tubuh mereka untuk kembali dalam sebuah adegan percintaan.
Jarang sekali Melis merasakan ada gairah dalam dirinya. Gairah lain. Gairah
yang ditumbuhkan oleh lelaki itu. Oleh Remus.
***
Entah
kapan pastinya tumbuhan cinta menjalar di hati Melis dan Remus. Yang menjelma
akar timun yang berhasrat mencapai puncak tiang bambu. Ikatan mereka semakin
kuat, sesering pertemuan mereka dalam adegan percintaan. Dan sampai pada suatu
kali, entah disebabkan oleh angin apa, tiba-tiba Remus meminta Melis untuk
menjadi kekasihnya.
Sungguh
Melis terkejut mendengar ajakan Remus yang memintanya agar menjadi kekasih
lelaki yang sering memesan dirinya itu. Melis seakan-akan mendengar lagi omong
kosong almarhum Bapaknya dulu. Bapak yang pernah mengiyakan permintaan Melis
sewaktu Melis ingin dibelikan sekotak mainan Power Ranger. Power Ranger yang
berwarna merah. Lebih perkasa. Kakinya kekar-sekekar ubi kayu yang sudah
berumur setahun. Tangannya berisi seperti botol bir yang selalu diminum Bapak
setiap pulang kerja. Dan yang pastinya mainan itu sangat keren.
Tetapi
nyatanya Bapaknya menipu. Tak ada dibelikan mainan Power Ranger itu. Sebab
Bapak mengiyakan permitaan Melis waktu itu lantaran malas mendengar rengekan
Melis yang kalau tak diiyakan pasti bakal semakin menjadi-jadi. Bisa menggaduhkan
seisi kantor. Bapak menipu Melis.
Melis
menanggapi permintaan Remus penuh dengan rasa terkejut. Tak percaya. Sebab,
mana mungkin ada lelaki, seorang lelaki kaya pula, mencintai ‘betina anjing
latin penuh kejutan di atas ranjang’ seperti dirinya. Melis tak percaya.
Benar-benar tak. Lain halnya kalau Remus berkata akan mengontrak dirinya selama
3 tahun, bisa jadi Melis percaya. Sesuai sekali dengan profesi yang digelutinya
sebagai sebagai seseorang yang selalu dipanggil Saya. Pekerja jasa
hubungan singkat.
Remus
memaklumi rasa tak percaya Melis. Dalam pikirannya, barangkali Melis baru kali
ini ditawari dengan permintaan yang cukup serius seperti itu. Permintaan
menjadi seorang kekasih. Bukan hanya sebagai pemuas nafsu. Dari gelagat yang
seperti kucing berusaha mengambil ikan goreng di dalam tudung di atas meja
makan, tampaknya, Remus tak patah keladi. Ia pun mengulang permintaanya dengan
lebih serius lagi. Permintaan yang sungguh sangat serius. Permintaan yang
menjadi sangat asing bagi diri Melis.
Melis
menangkap permintaan Remus yang serius. Dan mencernanya dengan serius pula.
Seserius paksaan Bapaknya dulu pada suatu malam. Malam yang tragedi. Malam
hujan. Hujan yang turun dengan sangat ganas. Hujan yang pernah mengisahkan
kepiluan domba putih tentang hujan yang melunturi aroma tubuhnya. Aroma lain
yang sangat disukai kekasih.
Waktu
itu, Bapak Melis pulang larut malam. Sebotol bir tak terpegang di jemari
Bapaknya yang lunglai lantaran Bapaknya itu mabuk berat. Entah kenapa,
tiba-tiba sebotol bir itu terlepas. Dan tangan Bapak yang besar itu pun jatuh
tepat di dada Melis. Bir brengsek itu telah membuat Bapak mabuk berat. Di dada
Melis, tangan Bapak tiba-tiba menerobos masuk ke dalam belahan baju Melis.
Melis terarau. Melis berusaha mengelak dari serakah serobot lahan tangan
Bapaknya yang besar itu. Sama besarnya dengan botol bir tadi sebelum jatuh.
Melis
berhasil melepaskan diri dari cengkraman tangan Bapaknya. Tetapi baju Melis
sudah terlanjur mengembang. Sobek besar pada bagian dada. Semakin jelas semua.
Dan Bapak yang mabuk berat itu, ganas menatap, dan meracau berujar kepada
Melis: Melis, apa kau tega melihat Bapak begini? Dirundung dalam kesepian yang
dalam, sedalam saku celana ini?
Tak
dapat mengelak, Melis pun terpaksa mandi air bir panas malam itu. Bir yang
paling panas. Bir yang dulu dalam kenangannya telah membuat ibunya mati, akibat
ditampar Bapaknya yang mabuk setelah menghabiskan lebih 5 botol bir. Dengan bir
yang sama pula kelopak gadisnya dituntaskan Bapak. Masih lekat peristiwa waktu
itu di tubuhnya hingga kini.
Melis
dengan perasaan senang yang melipatgandakan gembira tentu saja menerima
permintaan Remus. Permintaan agar menjadi kekasih Remus. Maka sejak saat itu,
yang hanya disaksikan beberapa lembar uang ratusan ribu, Melis dan Remus pun
resmi menjadi sepasang kekasih. Sejarah baru dalam kehidupan Melis.
***
Kabar
baik itu Melis ceritakan kepada Nuis. Teman akrab Melis yang sama-sama bekerja
di kantor Saya. Dengan mengisahkan cerita yang sesungguhnya
benar-benar terjadi, Melis berusaha meyakinkan Nuis. Nuis terkejut mendengar
cerita dari Melis. Nuis tak percaya. Dalam pikirannya, Melis hanya
mengarang-ngarang cerita. Sebab, mana ada lelaki yang mau mencintai perempuan
yang bekerja di kelompok Saya. Mencintai seorang ‘betina anjing latin
penuh kejutan di atas ranjang’ seperti Melis. Tetapi, Melis tak pernah bohong
kalau sedang berkisah tentang dirinya kepada Nuis.
Nuis
sakit hati. Nuis tak rela dan tak akan membiarkan Melis bersenang-senang
dengan Remus. Nuis tak ingin Melis bisa menikmati kesenangan di dunia ini. Nuis
tak ingin kalau Melis lebih dari dirinya. Nuis beranggapan, dirinyalah yang
pantas bercinta-kasih dengan Remus. Meskipun Nuis belum pernah bertemu dengan
Remus, tetapi, dari pemaparan Melis, Nuis yakin bahwa Remus adalah lelaki
impiannya. Lelaki yang benar-benar kaya. Orang gagah. Dan bisa mencintai
dirinya sepenuh hati. Seperti kisah percintaan kantau yang seringkali
ditontonnya pada film remaja di salah satu Stasiun Televisi itu. Kisah cinta
remaja yang hampir serupa dengan kisah cinta Melis. Percintaan yang mustahil
terjadi, pikir Nuis.
Nuis
berniat menghancurkan hubungan percintaan Melis dan Remus. Nuis ingin berbicara
dengan Remus. Nuis akan merusak kisah percintaan Melis. Nuis sengaja duduk di
dekat telepon, menunggu dering telepon dari Remus untuk Melis.
Telepon
dari Remus yang ditunggu-tunggu Nuis pun tiba. Dengan jantung yang berdegup
kencang seperti pelarian seorang napi dari penjara, Nuis angkat telepon itu.
Nuis
dan Remus pun jatuh dalam percakapan panjang yang juga melebar. Nuis mengumpat
Melis. Nuis mengatakan segala hal buruk tentang Melis. Hal yang jauh sekali
dari kepribadian Melis. Nuis bilang: Melis itu sudah menikah sepuluh kali! Nuis
bilang: Melis itu sekarang masih bersuami! Nuis bilang: Melis itu belum cerai
dari suaminya si dantre, preman besar yang bertato ganas di punggung.
Remus
emosi. Remus memanas. Remus marah tak tentu arah. Dari mulut Remus, tiba-tiba
saja keluar kata-kata akan meninggalkan Melis. Remus benar-benar marah.
Kemarahan remus dirasakan melebihi suasana perang aceh sewaktu Remus masih
menjadi tentara dulu. Kemarahan yang dirasakan Remus sewaktu teman karibnya si
Anatona terjebak dalam sebuah ledakan, dan mati. Teman yang sudah seperti
saudara kandungnya sendiri.
Namun
kemarahan Remus tak sebegitu lama. Setelah selesai hubungan telepon-menelpon
amarah dengan Nuis tadi, Remus tiba-tiba jadi tersadar kembali dalam emosinya.
Tiba-tiba saja Remus berubah pikiran menjadi yakin dan percaya terhadap Melis.
Remus berpikiran bahwa bukan pribadi Melis seperti yang disampaikan Nuis tadi.
Dalam pikiran Remus, Melis pasti jujur dan akan bicara kalau seandainya dirinya
masih berstatus istri orang lain. Tetapi, dalam pikiran Remus, ada sesuatu yang
terbesit begitu saja, entah kenapa. Mungkin perbincangan dengan Nuis tadi
sedikit-banyak membekas juga dalam diri Remus. Sedikit yang berarti.
***
Seperti
biasa, Melis dan Remus berlangsung dalam adegan percintaan. Adegan yang sangat
lain dirasakan Melis bila sedang melakukannya dengan sang kekasih.
Sebab,
jarang sekali Melis merasakan ada gairah dalam dirinya. Gairah lain. Gairah
yang hanya bisa ditumbuhkan oleh Remus. Mata Remus yang sipit-sesipit mata
Melis saat melihat cahaya asing bertahta mahkota intan yang bercahaya di mata
Remus, menjatuhkan Melis dalam kebahagiaan yang panjang. Namun adegan percintaan
ini tidak berlangsung lama. Entah apa alasan Remus segera menghentikan dan
menyelesaikan adegan waktu itu.
“Kapan
kita kawin, bang?”
“Kawin?
Walah, bukannya sudah?”
“Maksud
Saya, menikah?”
“Menikah?”
Tunas Mandiri, 2011
Terbit di koran Haluan, 21 Agustus 2011
Link: http://www.harianhaluan.com/index.php/seni/7958-melis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar