Posted by Ramoun Apta at 01.24
Read our previous post
semut
telah lama tak lagi menyukai hujan
yang
turun ke muka bumi menghijaukan rumput dan pohonan.
hujan yang turun terlalu lama itu hanya menyebarkan
kemurungan
sementara semut ingin hidup dalam kerumunan dan bersenang-senang.
pernah
ia sampaikan kebenciannya kepada Tuhan
agar
hujan diturunkan kecil-kecil dan sesekali saja, hanya pada saat
musim
kemarau tiba. tapi Tuhan tak menggubrisnya.
Tuhan malah
menderaskan
hujan yang turun di bulan September itu,
juga Oktober, November dan Desember
saat
semut sibuk memangsa kelopak bunga
dan
melahap pucuk-pucuk daun
yang
mekar ketika para kumbang tengah gencar
berbiak.
dan
hanya sesekali saja mencurahkan
embun-embun kecil
di
bulan Februari sampai Agustus
berakhir.
semut
ingin hujan berhenti sejenak sampai semua yang basah kering
setelah itu hujan mesti turun kembali tapi tidak
terlalu ganas.
semut ingin hujan tak hanya turun di bulan itu-itu saja
dan
turun tak begitu derasnya sehingga menyebabkan
genangan
air meluap dan merendam habis rumahnya.
merendam telur-telur dan menghancurkan persediaan
makanan.
tapi
Tuhan tetap menurunkan hujan sesuai jadual-Nya.
Tuhan tetap menurunkan hujan dengan deras sampai
menyebabkan banjir bandang dan menyeret puluhan rumah.
ternak-ternak
ikut hanyut, kebun dan sawah siap panen jadi gagal total.
lihatlah kota Jakarta kebanjiran sebab hujan
tertahan di jalur airnya yang penuh sampah.
Semut merasa Tuhan tidak adil dan
hanya mencintai rumput dan pohonan
yang Ia hijaukan agar Ia bisa menyaksikan panorama
indah dari atas sana.
tapi
Tuhan senyum saja. Ia
tak hendak murka kepada semut
yang
begitu suzon pada-Nya. Ia tak hendak mengutuk semut
yang begitu keras kepala jadi penghuni neraka Jahanam
sebagaimana iblis sesaat sebelum Adam diciptakan. Tuhan senyum
saja.
Ia memahami kebencian semut sebagaimana Ia memahami kebencian
pohon
kepada kemarau yang menyebabkan daunnya ranggas.
Ia
memahami kemarahan semut sebagaimana Ia memahami
murkanya
karang kepada ombak yang tak henti mengikis tubuhnya.
Tuhan
sengaja bersikap lapang dada sebab Ia beranggapan
kalau semut masih labil dan belum cukup
dewasa.
semut
belum cukup dewasa untuk memahami betapa sakitnya
rerumputan
saat
mereka berlomba-lomba memamah pucuk mudanya yang baru bertunas.
*Dibacakan saat acara Malam Panggung Puisi 2014, yang diadakan oleh HMJ Sastra Indonesia Unand.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar