Comments

Minggu, 23 November 2014

Puisi Ramoun Apta, Semut yang Tak Menyukai Hujan

Posted by at 01.24 Read our previous post



semut telah lama tak lagi menyukai hujan
yang turun ke muka bumi menghijaukan rumput dan pohonan.

hujan yang turun terlalu lama itu hanya menyebarkan kemurungan
sementara semut ingin hidup dalam kerumunan dan bersenang-senang.

pernah ia sampaikan kebenciannya kepada Tuhan
agar hujan diturunkan kecil-kecil dan sesekali saja, hanya pada saat

musim kemarau tiba. tapi Tuhan tak menggubrisnya. Tuhan malah
menderaskan hujan yang turun di bulan September itu,

juga Oktober, November dan Desember
saat semut sibuk memangsa kelopak bunga

dan melahap pucuk-pucuk daun
yang mekar ketika para kumbang tengah gencar berbiak.

dan hanya sesekali saja mencurahkan embun-embun kecil
di bulan Februari sampai Agustus berakhir.

semut ingin hujan berhenti sejenak sampai semua yang basah kering
setelah itu hujan mesti turun kembali tapi tidak terlalu ganas.

semut ingin hujan tak hanya turun di bulan itu-itu saja
dan turun tak begitu derasnya sehingga menyebabkan

genangan air meluap dan merendam habis rumahnya.
merendam telur-telur dan menghancurkan persediaan makanan.

tapi Tuhan tetap menurunkan hujan sesuai jadual-Nya.
Tuhan tetap menurunkan hujan dengan deras sampai

menyebabkan banjir bandang dan menyeret puluhan rumah.
ternak-ternak ikut hanyut, kebun dan sawah siap panen jadi gagal total.

lihatlah kota Jakarta kebanjiran sebab hujan
tertahan di jalur airnya yang penuh sampah.

Semut merasa Tuhan tidak adil dan hanya mencintai rumput dan pohonan
yang Ia hijaukan agar Ia bisa menyaksikan panorama indah dari atas sana.

tapi Tuhan senyum saja. Ia tak hendak murka kepada semut
yang begitu suzon pada-Nya. Ia tak hendak mengutuk semut

yang begitu keras kepala jadi penghuni neraka Jahanam
sebagaimana iblis sesaat sebelum Adam diciptakan. Tuhan senyum saja.

Ia memahami kebencian semut sebagaimana Ia memahami kebencian
pohon kepada kemarau yang menyebabkan daunnya ranggas.

Ia memahami kemarahan semut sebagaimana Ia memahami
murkanya karang kepada ombak yang tak henti mengikis tubuhnya.

Tuhan sengaja bersikap lapang dada sebab Ia beranggapan
kalau semut masih labil dan belum cukup dewasa.

semut belum cukup dewasa untuk memahami betapa sakitnya rerumputan
saat mereka berlomba-lomba memamah pucuk mudanya yang baru bertunas.



*Dibacakan saat acara Malam Panggung Puisi 2014,  yang diadakan oleh HMJ Sastra Indonesia Unand.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template