Comments

Sabtu, 22 November 2014

Cerpen Ramoun Apta: Remus

Posted by at 12.01 Read our previous post
Remus mencintai Melis bagaikan ingin yang tersirat dalam puisi Sapardi. Yakni, ‘ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu’. Begitulah rasa cinta yang membulat di hati Remus. Semoga Melis mengetahui.

***

Remus adalah seorang pria kaya. Umurnya sekitar 30 tahun. Ganteng (gagah tenggen). Pensiunan tentara. Perang yang dulu berke­camuk di Aceh, ketika GAM (Gerakan Aceh Merdeka) memberontak terhadap republik Indo­nesia, yang barangkali pada waktu itu, GAM ingin melepaskan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Remus berpe­rang di sana, melawan orang-orang dari bangsanya sendiri. Indonesia.

Perang itu membuat Remus kehilangan sobat karibnya yang juga seorang tentara. Seorang yang sudah seperti mesin pembunuh, hanya saja ia masih seba­tang daging. Manusia. Si Anatona. Sobat yang telah seperti saudaranya sendiri itu, mati ketika menye­lamatkan Remus dari ancaman bom yang berada di dekatnya. Anatona menyetubuhi bom itu dengan tubuhnya sendiri. Sehingga, bom yang sebenarnya akan mem­bunuh Remus itu, malah menghancurkan tubuh si Anatona jadi berkeping-keping. Mirip daging sapi yang dipotong-potong dan akan dijual di pasar. Daging cincang.

Sesal, kesal, emosi, dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengan amarah, membulat dalam benak Remus waktu itu. Amarah yang barangkali seperti gurun pasir yang sedang mengalami peristiwa badai. Menghancurkan kaktus berduri yang akan menggembungkan diri, mengisi air di tubuhnya. Remus tak tentu arah bagai seekor gajah yang mengamuk lantaran habitat­nya dirusak. Remus menekan pelatuk senjata seakan telunjuknya itu terlem dan tak bisa dile­pas­kan lagi. Senjata itu menembak ke segala penjuru. Menghancurkan pohon-pohon yang ada di sekitarnya. Sehingga, peluru yang seharusnya untuk memerangi pemberontak pun jadi habis bersamaan hilangnya gaung suara tembakan senjata.

Kejadian itu membuat Remus mendapat sanksi dari kesatuan. Ia diberhen­titugaskan sementara bagai seorang mahasiswa yang di’BSS’kan (Berhenti Semester Sementara) oleh pejabat universitas lantaran terlambat membayar uang kuliah. Sehingga akhirnya, Remus yang stres berat, mengambil keputusan untuk berhenti menjadi tentara. Bukan berhenti lantaran takut berperang menghadapi GAM, tetapi bayangan si Anatona, sobat karibnya itu selalu meng­hantui mata Remus setiap­kali Remus memegang senjata. Anatona yang malang.

***

Remus menjadi seorang pria kaya lantaran bakatnya menjadi seorang penipu telah tumbuh sebagai pohon beringin besar yang berdiri tepat di tengah-tengah taman kota. Bakat yang didapatnya begitu saja setelah berhasil menipu tante Lune. Dan menguras habis kekayaannya. Tante Lune yang seorang janda kaya itu tak kuasa mena­han gejolak cintanya kepada Remus. Ia jatuh ke dalam dirinya sendiri setelah menatap mata Remus, jatuh bagai seorang Melayu yang terguling dan mati usai kena tujah pisau oleh Orang Linggau. Sehingga, segala apa yang diinginkan Remus, menjadi perihal nomor satu yang mesti segera dipenuhi oleh tante Lune. Tante Lune yang kaya.

Remus pernah meminta uang kepada tente Lune sebesar, dua ratus sepuluh juta tiga ratus ribu rupiah, untuk membayar berobat mama yang sedang sakit, alasan Remus. Dengan sigap, tante Lune yang cinta mati kepada Remus itu, langsung memberikan cek kepada Remus untuk segera dicairkan uangnya di Bank. Tetapi esok harinya, Remus yang datang mene­mui tante Lune, tiba-tiba saja sudah mengendari mobil sedan baru. Mobil milik mama, kata Remus.

Remus pernah meminta uang kepada tante Lune sebesar, lima ratus dua puluh satu juta seratus tujuh puluh ribu rupiah, untuk membayar hutang bapak yang baru saja meninggal. Hutang harta dan hutang budi, kata Remus. Seakan siaran langsung permainan sepak bola, tante Lune bergerak cepat laksana Messi dalam menggiring bola, dan langsung memberi uang kontan kepada Remus. Uang fee yang baru saja tante Lune terima dari seorang teman, setelah ia berhasil menangkan perusa­haan temannya itu, meng­un­durkan perusahaan miliknya dalam seleksi jasa konstruksi, proyek pemba­ngunan jalan menuju salah satu kampus di kotanya. Tetapi esoknya, Remus tiba-tiba datang mengajak tante Lune pergi liburan dengan mengendarai sepeda motor Harley Davidson. Motor peninggalan almar­hum bapak, kata Remus.

Remus pernah meminta uang kepada tante Lune sebesar, tiga milyar rupiah, untuk membayaran denda kepada pihak rumah sakit yang pernah ia gugat di pengadilan. Rumah sakit yang membuat ibu Remus meninggal lantaran dokter spesialis yang memegang kendali atas pengobatan ibu Remus lalu, salah memberi obat untuk ibunya yang sakit. Ibu Remus pun mati dengan mulut berbuih persis seorang wanita yang mati bunuh diri dengan cara menenggak racun. Tetapi sialnya, pihak pengadilan malah memenangkan pihak rumah sakit yang ber­standar Internasional itu, dan mendenda Remus. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada tante Lune, Remus pun meng­ajak tante Lune menginap di rumah yang baru saja ia beli. Rumah yang hampir seperti istana itu. Tempat yang diharapkan Remus bisa menemukan suasana baru dalam sebuah per­mainan hasrat dengan tante Lune.

Remus semakin kese­ringan meminta uang kepada tante Lune, sehing­ga akhirnya, janda kaya yang pernah mengaku sebagai keluarga presiden itu pun mati dengan tali kutang yang terikat di lehernya. Tak ada yang tahu pasti apa sesung­guhnya yang terjadi. Yang jelas, di sekitar mayat tante Lune, oleh penyidik, ditemukan beberapa lembar surat panggilan dari pihak Bank daerah, beberapa dari pihak kepolisian, dan beberapa lagi dari sejumlah kantor jasa pegadaian. Dan masih banyak lagi nota-nota tagihan dari berbagai toko tempat tante Lune biasa membeli barang kebutuhan konstruksi, menyelesaikan proyek pembangunan komplek gedung kantor yang dime­nangkannya pada tender beberapa waktu setelah ia bercinta-kasih dengan Remus. Hutang yang membuat tante Lune, janda kaya itu, menjemput cinta almarhum suaminya yang lama ke liang lahat.

Tante Lune yang malang. Dan Remus yang pandai mengolah semen, dan mahir mendirikan rumah. Remus menjadi kaya. Tante Lune mati membawa tali kutang ke liang kuburnya. Hutang yang bertumpuk itu, menjadi belatung di bibir ke tiga anak tante Lune yang terpaksa berdagang kelamin di sebuah hotel berbintang banyak. Anak tante Lune yang sarjana itu.

Rupanya, bukan hanya tante Lune yang pernah menjadi korban dari kegantengan Remus. Tante Jeni, mantan istri panglima tentara pun pernah dima­mah dan jatuh dalam gombal mulut manis Remus. Tante yang baru cerai sebulan itu, yang mendapat sepertiga bagian harta dari mantan suami­nya itu, yang kalau diuang­kan sekitar, dua belas koma tiga miliyar rupiah, tiba-tiba berhutang kepada Remus sebesar, empat ratus lima puluh tujuh juta tiga ratus dua puluh satu ribu enam ratus rupiah. Entah bagaimana cara Remus bermain di lembing lembah, dan memanjatnya dengan cekatan, sehingga lembah terjal nan tinggi itu, tiba-tiba berhutang ketinggian kepada dirinya.

Remus yang mahir mengunci baut usai me­num­pahkan oli mesin ke dalam selokan. Sehingga, noda di hidungnya yang korengan pun tampak seperti bercak saus stroberi yang melekat usai menyan­tap sepotong roti sarapan pagi. Remus yang cerdik bagai si Kancil dalam dongeng si Kubu di Jambi.

***

Diam-diam, Remus menyukai seorang perem­puan. Melis namanya. Perempuan yang tergabung dalam sebuah kelompok kerja yang bernama komu­ni­tas Saya. Seorang pekerja jasa hubungan singkat. Perempuan yang membuat hati Remus jatuh bagai gedebum kelapa jatuh itu, mirip sekali dengan mantan kekasihnya yang meninggal dalam kecela­kaan pesawat sewaktu ia sedang kewalahan di medan perang.

Remus tak menyangka kalau peluru yang menge­nai ibu jarinya itu, adalah suatu petanda tragedi kematian sang kekasih. Pesawat yang dinaiki kekasihnya itu, yang berangkat dari Aceh menuju Jakarta itu, mele­dak diangkasa begitu saja. Tak ada informasi yang akurat mengenai peristiwa itu. Yang jelas, menurut kabar yang berkembang-biak dari mulut ke telinga, pesawat itu hancur berke­ping-keping akibat aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang teroris yang masuk dan menyamar sebagai teknisi bagian mesin pesawat. Ia masuk melalui ruang pada bagian roda pesawat. Pura-pura membetulkan roda, rupanya tak keluar lagi dari sana. Berita itu diketahui dari seorang perempuan yang tak mau disebutkan nama­nya. Yang kata perempuan itu, ia sempat melihat sosok lelaki masuk melalui ruang terbuka pada bagian roda sewaktu pesawat itu parkir. Dan sosok lelaki itu pun menghilang bersamaan lepas landasnya pesawat. Berangkat mengudara menuju Jakarta. Lelaki itu pun diduga sebagai teroris. Berita yang tak masuk di akal.

Komunitas Saya. Rupanya adalah nama sebuah kelompok kerja yang dipimpin oleh seorang pria yang juga pensiunan tentara perang Aceh. Sama seperti Remus. Kata melis, bosnya itu mendirikan Saya lantaran hasrat si bos terhadap perempuan sangat tinggi. Seperti selera seorang pejabat yang ingin cepat kaya, dan akhirnya menempuh jalur korupsi sebagai pelepas hasrat setannya itu.

Dulu, sebelum komu­nitas Saya berdiri, setiap malam sekurang-kurangnya tiga perempuan cantik selalu digandeng si bos kemana pun ia pergi. Dulu itu si bos masih kaya raya. Tak seorang perempuan pun menolak ajakan si bos bila ia menginginkan mereka. Namun pada suatu ketika, entah di sebabkan oleh apa, tiba-tiba si bos bangkrut. Tapi tidak jatuh miskin. Dengan kedok membangun sebuah kelom­pok kerja, si bos meng­himpun perempuan-perempuan cantik, me­nyatukannya dalam sebu­ah kantor yang disebut sebagai komunitas Saya. Kelompok yang sudah seperti peru­sahaan. Kelompok yang awal berdirinya sekedar untuk menyatukan pelacur-pelacur liar, dan perem­puan-perempuan gatal yang haus garutan seorang lelaki.

Belakangan, beredar kabar, si bos membentuk komunitas Saya karena kondisi keuangannya semakin menipis. Tak mampu lagi ia menggandeng perempuan-perempuan cantik untuk kebutuhan pribadinya. Sehingga dengan berdirinya komunitas Saya, seluruh perempuan yang bergabung di komunitas itu, bisa diapa-apakan olehnya. Bisa pula menghasilkan uang. Peluang bisnis bagi lelaki pensiunan tentara perang Aceh yang hampir sinting itu, jelas Melis lebih merinci.

Nama komunitas Saya didapati oleh Si Bos berdasarkan keinginannya untuk memberontak terhadap penamaan ‘Saya’ sebagai kata ganti orang pertama dalam bahasa Indonesia. Menurut si bos, kata ‘Saya’, sebagai kata ganti penunjuk orang pertama itu tidak penting. Langsung saja menyebutkan nama subjeknya tak ada masalah. Malah lebih afdol. Apalagi dalam sebuah surat. Kata ‘Saya’ itu tak berarti apa-apa kalau tidak ada nama orang si pengaku ‘Saya’ turut serta tertulis di dalamnya. Misalkan, dalam sebuah surat perjanjian, apa salahnya langsung ditulis nama orang yang akan berjanji. Misalnya, ‘Renom berjanji akan...’. Tidak memakai kata ganti orang pertama. Misalnya, ‘Saya berjanji akan...’. Dan setelah memakai kata ganti ‘Saya’, barulah mulai menyebutkan sebuah nama sebagai penyerta surat perjanjian itu. Bukankah hal itu hanya bentuk dari sebuah pemborosan kalimat? Benar-benar ciri-ciri orang asli indonesia! Kata Melis menirukan gaya ucap bosnya yang berlagak ke barat-baratan itu. Sehingga atas dasar penolakan itulah si bos memakai ‘Saya’ sebagai nama komunitas yang didirikannya. Komunitas Saya. Ingin sekali si bos mengacaukan makna kata itu, terang melis lebih lanjut dengan bahasa yang senyala lampu damar.

***

Hubungan Remus dan Melis dari hari ke hari semakin akrab. Lantaran Remus sering meminta Melis untuk datang ke rumahnya. Menemaninya mengarungi malam panjang dengan ringkik kuda basah yang gaung suaranya lamat dalam derai hujan yang jatuh bagai berlomba dengan udara, saling mendahului untuk mencintai tanah. Setiap malam bagi Remus, sejak perjumpaannya dengan Melis, adalah hari di mana puisi-puisi yang tercipta adalah bernuansa romantis. Yang dalam pikiran Remus, yang tiba-tiba bagai seorang penyair dan berlagak kritikus beranggapan: telah tercipta puisi gelap tetapi romantis, puisi haru tetapi romantis, puisi tragedi tetapi romantis, puisi berontak tetapi romantis, puisi chaos tetapi romantis. Dan mantra yang bernuansa mistis pun terlahir sebagai puisi yang bernuansa romantis. Hari baik bagi puisi.

Dan Remus akan menikahi Melis setelah ia berhasil membuatkan puisi cinta untuk Melis, yang abadinya melebihi puisi ‘Aku Ingin’ yang diciptakan oleh Sapardi. Semoga.

Padang, 2011

Terbit di koran Haluan, 11 September 2011
Link: http://www.harianhaluan.com/index.php/seni/8376-remus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template