Posted by Ramoun Apta at 12.01
Read our previous post
Remus
mencintai Melis bagaikan ingin yang tersirat dalam puisi Sapardi. Yakni,
‘ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu’. Begitulah rasa cinta yang membulat di hati
Remus. Semoga Melis mengetahui.
***
Remus
adalah seorang pria kaya. Umurnya sekitar 30 tahun. Ganteng (gagah tenggen).
Pensiunan tentara. Perang yang dulu berkecamuk di Aceh, ketika GAM (Gerakan
Aceh Merdeka) memberontak terhadap republik Indonesia, yang barangkali pada
waktu itu, GAM ingin melepaskan diri dari NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia). Remus berperang di sana, melawan orang-orang dari bangsanya
sendiri. Indonesia.
Perang
itu membuat Remus kehilangan sobat karibnya yang juga seorang tentara. Seorang
yang sudah seperti mesin pembunuh, hanya saja ia masih sebatang daging.
Manusia. Si Anatona. Sobat yang telah seperti saudaranya sendiri itu, mati
ketika menyelamatkan Remus dari ancaman bom yang berada di dekatnya. Anatona
menyetubuhi bom itu dengan tubuhnya sendiri. Sehingga, bom yang sebenarnya akan
membunuh Remus itu, malah menghancurkan tubuh si Anatona jadi
berkeping-keping. Mirip daging sapi yang dipotong-potong dan akan dijual di
pasar. Daging cincang.
Sesal,
kesal, emosi, dan segala tetek-bengek yang berhubungan dengan amarah, membulat
dalam benak Remus waktu itu. Amarah yang barangkali seperti gurun pasir yang
sedang mengalami peristiwa badai. Menghancurkan kaktus berduri yang akan
menggembungkan diri, mengisi air di tubuhnya. Remus tak tentu arah bagai seekor
gajah yang mengamuk lantaran habitatnya dirusak. Remus menekan pelatuk senjata
seakan telunjuknya itu terlem dan tak bisa dilepaskan lagi. Senjata itu
menembak ke segala penjuru. Menghancurkan pohon-pohon yang ada di sekitarnya.
Sehingga, peluru yang seharusnya untuk memerangi pemberontak pun jadi habis
bersamaan hilangnya gaung suara tembakan senjata.
Kejadian
itu membuat Remus mendapat sanksi dari kesatuan. Ia diberhentitugaskan
sementara bagai seorang mahasiswa yang di’BSS’kan (Berhenti Semester Sementara)
oleh pejabat universitas lantaran terlambat membayar uang kuliah. Sehingga
akhirnya, Remus yang stres berat, mengambil keputusan untuk berhenti menjadi
tentara. Bukan berhenti lantaran takut berperang menghadapi GAM, tetapi
bayangan si Anatona, sobat karibnya itu selalu menghantui mata Remus setiapkali
Remus memegang senjata. Anatona yang malang.
***
Remus
menjadi seorang pria kaya lantaran bakatnya menjadi seorang penipu telah tumbuh
sebagai pohon beringin besar yang berdiri tepat di tengah-tengah taman kota.
Bakat yang didapatnya begitu saja setelah berhasil menipu tante Lune. Dan
menguras habis kekayaannya. Tante Lune yang seorang janda kaya itu tak kuasa
menahan gejolak cintanya kepada Remus. Ia jatuh ke dalam dirinya sendiri
setelah menatap mata Remus, jatuh bagai seorang Melayu yang terguling dan mati
usai kena tujah pisau oleh Orang Linggau. Sehingga, segala apa yang diinginkan
Remus, menjadi perihal nomor satu yang mesti segera dipenuhi oleh tante Lune.
Tante Lune yang kaya.
Remus
pernah meminta uang kepada tente Lune sebesar, dua ratus sepuluh juta tiga
ratus ribu rupiah, untuk membayar berobat mama yang sedang sakit, alasan Remus.
Dengan sigap, tante Lune yang cinta mati kepada Remus itu, langsung memberikan
cek kepada Remus untuk segera dicairkan uangnya di Bank. Tetapi esok harinya,
Remus yang datang menemui tante Lune, tiba-tiba saja sudah mengendari mobil
sedan baru. Mobil milik mama, kata Remus.
Remus
pernah meminta uang kepada tante Lune sebesar, lima ratus dua puluh satu juta
seratus tujuh puluh ribu rupiah, untuk membayar hutang bapak yang baru saja
meninggal. Hutang harta dan hutang budi, kata Remus. Seakan siaran langsung
permainan sepak bola, tante Lune bergerak cepat laksana Messi dalam menggiring
bola, dan langsung memberi uang kontan kepada Remus. Uang fee yang baru
saja tante Lune terima dari seorang teman, setelah ia berhasil menangkan perusahaan
temannya itu, mengundurkan perusahaan miliknya dalam seleksi jasa konstruksi,
proyek pembangunan jalan menuju salah satu kampus di kotanya. Tetapi esoknya,
Remus tiba-tiba datang mengajak tante Lune pergi liburan dengan mengendarai
sepeda motor Harley Davidson. Motor peninggalan almarhum bapak, kata Remus.
Remus
pernah meminta uang kepada tante Lune sebesar, tiga milyar rupiah, untuk
membayaran denda kepada pihak rumah sakit yang pernah ia gugat di pengadilan.
Rumah sakit yang membuat ibu Remus meninggal lantaran dokter spesialis yang
memegang kendali atas pengobatan ibu Remus lalu, salah memberi obat untuk
ibunya yang sakit. Ibu Remus pun mati dengan mulut berbuih persis seorang
wanita yang mati bunuh diri dengan cara menenggak racun. Tetapi sialnya, pihak
pengadilan malah memenangkan pihak rumah sakit yang berstandar Internasional
itu, dan mendenda Remus. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada tante Lune,
Remus pun mengajak tante Lune menginap di rumah yang baru saja ia beli. Rumah
yang hampir seperti istana itu. Tempat yang diharapkan Remus bisa menemukan
suasana baru dalam sebuah permainan hasrat dengan tante Lune.
Remus
semakin keseringan meminta uang kepada tante Lune, sehingga akhirnya, janda
kaya yang pernah mengaku sebagai keluarga presiden itu pun mati dengan tali
kutang yang terikat di lehernya. Tak ada yang tahu pasti apa sesungguhnya yang
terjadi. Yang jelas, di sekitar mayat tante Lune, oleh penyidik, ditemukan
beberapa lembar surat panggilan dari pihak Bank daerah, beberapa dari pihak
kepolisian, dan beberapa lagi dari sejumlah kantor jasa pegadaian. Dan masih
banyak lagi nota-nota tagihan dari berbagai toko tempat tante Lune biasa
membeli barang kebutuhan konstruksi, menyelesaikan proyek pembangunan komplek
gedung kantor yang dimenangkannya pada tender beberapa waktu setelah ia
bercinta-kasih dengan Remus. Hutang yang membuat tante Lune, janda kaya itu,
menjemput cinta almarhum suaminya yang lama ke liang lahat.
Tante
Lune yang malang. Dan Remus yang pandai mengolah semen, dan mahir mendirikan
rumah. Remus menjadi kaya. Tante Lune mati membawa tali kutang ke liang
kuburnya. Hutang yang bertumpuk itu, menjadi belatung di bibir ke tiga anak
tante Lune yang terpaksa berdagang kelamin di sebuah hotel berbintang banyak.
Anak tante Lune yang sarjana itu.
Rupanya,
bukan hanya tante Lune yang pernah menjadi korban dari kegantengan Remus. Tante
Jeni, mantan istri panglima tentara pun pernah dimamah dan jatuh dalam gombal
mulut manis Remus. Tante yang baru cerai sebulan itu, yang mendapat sepertiga
bagian harta dari mantan suaminya itu, yang kalau diuangkan sekitar, dua
belas koma tiga miliyar rupiah, tiba-tiba berhutang kepada Remus sebesar, empat
ratus lima puluh tujuh juta tiga ratus dua puluh satu ribu enam ratus rupiah.
Entah bagaimana cara Remus bermain di lembing lembah, dan memanjatnya dengan
cekatan, sehingga lembah terjal nan tinggi itu, tiba-tiba berhutang ketinggian
kepada dirinya.
Remus
yang mahir mengunci baut usai menumpahkan oli mesin ke dalam selokan.
Sehingga, noda di hidungnya yang korengan pun tampak seperti bercak saus
stroberi yang melekat usai menyantap sepotong roti sarapan pagi. Remus yang
cerdik bagai si Kancil dalam dongeng si Kubu di Jambi.
***
Diam-diam,
Remus menyukai seorang perempuan. Melis namanya. Perempuan yang tergabung
dalam sebuah kelompok kerja yang bernama komunitas Saya. Seorang
pekerja jasa hubungan singkat. Perempuan yang membuat hati Remus jatuh bagai
gedebum kelapa jatuh itu, mirip sekali dengan mantan kekasihnya yang meninggal
dalam kecelakaan pesawat sewaktu ia sedang kewalahan di medan perang.
Remus
tak menyangka kalau peluru yang mengenai ibu jarinya itu, adalah suatu petanda
tragedi kematian sang kekasih. Pesawat yang dinaiki kekasihnya itu, yang
berangkat dari Aceh menuju Jakarta itu, meledak diangkasa begitu saja. Tak ada
informasi yang akurat mengenai peristiwa itu. Yang jelas, menurut kabar yang
berkembang-biak dari mulut ke telinga, pesawat itu hancur berkeping-keping
akibat aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang teroris yang masuk dan
menyamar sebagai teknisi bagian mesin pesawat. Ia masuk melalui ruang pada
bagian roda pesawat. Pura-pura membetulkan roda, rupanya tak keluar lagi dari
sana. Berita itu diketahui dari seorang perempuan yang tak mau disebutkan namanya.
Yang kata perempuan itu, ia sempat melihat sosok lelaki masuk melalui ruang
terbuka pada bagian roda sewaktu pesawat itu parkir. Dan sosok lelaki itu pun
menghilang bersamaan lepas landasnya pesawat. Berangkat mengudara menuju
Jakarta. Lelaki itu pun diduga sebagai teroris. Berita yang tak masuk di akal.
Komunitas
Saya. Rupanya adalah nama sebuah kelompok kerja yang dipimpin oleh
seorang pria yang juga pensiunan tentara perang Aceh. Sama seperti Remus. Kata
melis, bosnya itu mendirikan Saya lantaran hasrat si bos terhadap
perempuan sangat tinggi. Seperti selera seorang pejabat yang ingin cepat kaya,
dan akhirnya menempuh jalur korupsi sebagai pelepas hasrat setannya itu.
Dulu,
sebelum komunitas Saya berdiri, setiap malam sekurang-kurangnya tiga
perempuan cantik selalu digandeng si bos kemana pun ia pergi. Dulu itu si bos
masih kaya raya. Tak seorang perempuan pun menolak ajakan si bos bila ia
menginginkan mereka. Namun pada suatu ketika, entah di sebabkan oleh apa,
tiba-tiba si bos bangkrut. Tapi tidak jatuh miskin. Dengan kedok membangun
sebuah kelompok kerja, si bos menghimpun perempuan-perempuan cantik, menyatukannya
dalam sebuah kantor yang disebut sebagai komunitas Saya. Kelompok yang
sudah seperti perusahaan. Kelompok yang awal berdirinya sekedar untuk
menyatukan pelacur-pelacur liar, dan perempuan-perempuan gatal yang haus
garutan seorang lelaki.
Belakangan,
beredar kabar, si bos membentuk komunitas Saya karena kondisi
keuangannya semakin menipis. Tak mampu lagi ia menggandeng perempuan-perempuan
cantik untuk kebutuhan pribadinya. Sehingga dengan berdirinya komunitas Saya,
seluruh perempuan yang bergabung di komunitas itu, bisa diapa-apakan olehnya.
Bisa pula menghasilkan uang. Peluang bisnis bagi lelaki pensiunan tentara
perang Aceh yang hampir sinting itu, jelas Melis lebih merinci.
Nama
komunitas Saya didapati oleh Si Bos berdasarkan keinginannya untuk
memberontak terhadap penamaan ‘Saya’ sebagai kata ganti orang pertama dalam
bahasa Indonesia. Menurut si bos, kata ‘Saya’, sebagai kata ganti penunjuk
orang pertama itu tidak penting. Langsung saja menyebutkan nama subjeknya tak
ada masalah. Malah lebih afdol. Apalagi dalam sebuah surat. Kata ‘Saya’ itu tak
berarti apa-apa kalau tidak ada nama orang si pengaku ‘Saya’ turut serta
tertulis di dalamnya. Misalkan, dalam sebuah surat perjanjian, apa salahnya
langsung ditulis nama orang yang akan berjanji. Misalnya, ‘Renom berjanji
akan...’. Tidak memakai kata ganti orang pertama. Misalnya, ‘Saya berjanji
akan...’. Dan setelah memakai kata ganti ‘Saya’, barulah mulai menyebutkan
sebuah nama sebagai penyerta surat perjanjian itu. Bukankah hal itu hanya
bentuk dari sebuah pemborosan kalimat? Benar-benar ciri-ciri orang asli
indonesia! Kata Melis menirukan gaya ucap bosnya yang berlagak ke barat-baratan
itu. Sehingga atas dasar penolakan itulah si bos memakai ‘Saya’ sebagai nama komunitas
yang didirikannya. Komunitas Saya. Ingin sekali si bos mengacaukan makna
kata itu, terang melis lebih lanjut dengan bahasa yang senyala lampu damar.
***
Hubungan
Remus dan Melis dari hari ke hari semakin akrab. Lantaran Remus sering meminta
Melis untuk datang ke rumahnya. Menemaninya mengarungi malam panjang dengan
ringkik kuda basah yang gaung suaranya lamat dalam derai hujan yang jatuh bagai
berlomba dengan udara, saling mendahului untuk mencintai tanah. Setiap malam
bagi Remus, sejak perjumpaannya dengan Melis, adalah hari di mana puisi-puisi
yang tercipta adalah bernuansa romantis. Yang dalam pikiran Remus, yang
tiba-tiba bagai seorang penyair dan berlagak kritikus beranggapan: telah
tercipta puisi gelap tetapi romantis, puisi haru tetapi romantis, puisi tragedi
tetapi romantis, puisi berontak tetapi romantis, puisi chaos tetapi romantis.
Dan mantra yang bernuansa mistis pun terlahir sebagai puisi yang bernuansa
romantis. Hari baik bagi puisi.
Dan
Remus akan menikahi Melis setelah ia berhasil membuatkan puisi cinta untuk
Melis, yang abadinya melebihi puisi ‘Aku Ingin’ yang diciptakan oleh Sapardi.
Semoga.
Padang,
2011
Terbit
di koran Haluan, 11 September 2011
Link:
http://www.harianhaluan.com/index.php/seni/8376-remus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar