Comments

Sabtu, 22 November 2014

Puisi-puisi Ramoun Apta, terbit di koran Tempo 6 April 2014

Posted by at 11.45 Read our previous post




Ragu

yang tersangkut di ujung lidah terdakwa
saat sidang pertama dibuka
sebelum kunci itu dikupak
seorang pengacara.

Padang, 2014


Pekerja Tambang

selalu ada batu yang batal dipecahkan
meski jidat telah mengguyurkan hujan.

tapi kita terus saja menggodam
sampai air mata benam
di lubuk terdalam.

sebab kita telah mengguguh hari
untuk menjadi penggali
meski saban hari nyala api memercik di tangan.

sebatas menggali, menggali,
memecah segala batu jadi
seperti serpih kayu di bibir tembilang

lalu ampasnya dibawa pulang.

sebab tali jantung kita terkebat di pinggang
tuan pemilik tambang.

Padang, 2014


Kuda Berkacamata

kemarin kau bilang
hanya kuda kusut masai
yang mahir bersilat
di ujung kecepatan.

sedang yang berekor gerai
hanyalah pesolek
yang takut
terlacak luluk dan kotoran.

tapi kini
kau tanam saham
pada kuda
berkacamata.

kau kata ia laga
di banyak arena
sebab di balik kacamata
ada matakaca siaga
sedia menjagal
segala hambatan.

tapi lihatlah
pada kerikil ia terjengkang
menapak anak tangga ia terikat majikan
dan saat kekang itu putus di tengah jalan
berputar-putar ia seperti Sufi
kehilangan Tuhan.

kukira ia perkasa
dadanya bidang
pemenang di segala medan laga.

tapi ternyata ia hanya
penggoda yang haus
ekor betina.

sedang kau pembelinya
umpama pantat terkembang
sedia ditusuknya!

Padang, 2014


Keriput Kulit

kulitku tak seperti dulu:
bunga bunga kapas yang berserak di halaman
di bawah terik jam 13.00 siang.

ini kulit adalah selimutku.
telah ia diperkosa usia, membuatku jadi laba-laba tua
pikun cara memintal serangga.

aku ingin ini kulit kembali seperti dulu:
uang seribu pada genggaman lelaki yang suka
meremas batang kelamin sendiri.

kuserahkan ia padamu, wahai setrika bara.
rapikanlah ia sebagaimana merah-putih
di tiang-tiang tinggi setelah Orde Baru runtuh itu.

Padang, 2014


Sapi Metal

melihatmu dari jauh. dari seberang sungai.
kau yang berada di bukit. menggunakan teropong,
aku melihatmu peluh menuruni bukit itu,
langkahmu selamban pelarian kau yang dulu,
sewaktu kau dikejar hantu. hantu laut.
hantu yang marah. sebab ikan-ikan dari lautnya
kau santap tanpa dimasak terlebih dahulu.
aku melihatmu tanpa busana.
badanmu pohon karet berusia 25 tahun.
rambutmu dikebat berbuhul di bagian belakang kepala
seperti camaro orang Minangkabau
menyerupai keong sebesar dua kepal tinju orang dewasa.
mungkinkah kau bukan orang asli
bukan berasal dari kaki dan perut bukit itu?
sebab lewat teropong, aku melihat kau yang besar
seakan jongkok dan membongsor.
persis gentong kosong yang terguling dan condong.
kau seperti sumo dari jepang yang berlaga
dengan batang kelapa.

Padang, 2014


Wajah Kupu-kupu yang Menangis

ia lihat dirinya di mata sayapnya sendiri.
segurat wajah yang terpola persis
perempuan tua penampung cahaya
saat purnama belum jadi nyata.

ia ingin abadikan wajah itu pada angin dan cuaca
agar seseorang di ethiopia saan percaya
pasti ada cinta setelah badai itu sirna.

tapi ia tak berdaya
kepaknya dilarang mengibas
sebab serbuk sutera itu rentan
seperti bayang purnama diremas hujan.

Padang, 2014




Ramoun Apta, lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Sedang belajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template