Posted by Ramoun Apta at 11.48
Read our previous post
RENDANG
seekor kerbau melenting
keluar dari belukar kata
mematahkan ranting
menidurkan semak-semak
keluar dari belukar kata
mematahkan ranting
menidurkan semak-semak
serupa mobil ambulans
yang menikung patah
meratakan rambu-rambu
mendepak para pejalan
yang hendak pulang.
yang menikung patah
meratakan rambu-rambu
mendepak para pejalan
yang hendak pulang.
sesaat menjelang santan
gelegak aroma ganda
kerbau itu kembali
gelegak aroma ganda
kerbau itu kembali
ini kali ia menjelma
kata-kata liar
terbatuk-batuk
pada setiap orang
kata-kata liar
terbatuk-batuk
pada setiap orang
sedang aku dibuatnya
mesti memecah pinggan
mesti memecah pinggan
sebab di meja makan ini
sekancah rendang
batal terbentang.
sekancah rendang
batal terbentang.
BLUES
aku adalah dendang
yang pecah dari bekas luka
yang pecah dari bekas luka
kubiarkan waktu mengatupku
sekedar menutupi siasatku
sekedar menutupi siasatku
bersama ikan dan terumbu karang
kijang dan pohon
kijang dan pohon
telah kutebar syair-syair
yang lahir dari tukak lambung
yang lahir dari tukak lambung
dan balada-balada miring
perihal tulang pinggang yang patah
perihal tulang pinggang yang patah
kini aku mengalun kembali
menyala-nyala api dalam diri
menyala-nyala api dalam diri
sebelum baliho-baliho terbakar
dan jalan-jalan banjir oleh darah
dan jalan-jalan banjir oleh darah
kudaki gunung tertinggi
di puncak namamu berdiri
di puncak namamu berdiri
sebab di sana sebuah gramofon
pernah berputar.
pernah berputar.
Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi. Sedang belajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar