Comments

Rabu, 05 Agustus 2015

PEDAGANG BATU MUSTIKA DI PASAR RAYA

Posted by at 01.50 Read our previous post
PEDAGANG BATU MUSTIKA DI PASAR RAYA

marilah, tuan, kemarilah
simaklah batu mustika dari kampung kami.

ini batu keramat orang dulu
dipetik dari ceruk lembah yang mempertemukan dunia bawah

tempat sekalian siluman berdiang
dengan gigi sebesar raja pisang.

empat puluh kali purnama
telah dirapalkan padanya sekelumit mantra.

tanah sirah dibikinnya bernanah
sungai bening dibikinnya menguning.

bila kau kenakkan di jari manismu sembari memainkan gasing tengkurak
lunak dibuatnya tembusu gadis itu.

bukankah kau ingin rindumu berdentang
saat bertemu gendang?

dan bukankah kau ingin hasratmu tak membuahkan kerupuk lempam
saat diangin-anginkan di atas ranjang?

Insyaallah, malam ini, segala yang kau mau
akan sampai berkat ini batu.

maka dari itu kemarilah, tuan, kemarilah
simaklah batu mustika dari kampung kami ini!

ini hari khusus kami buka lapak
buat menyenangkan hati tuan-tuan sekalian.

- berapa hendak kau jual batu ini, dunsanak sakampuang?
  kulihat merahnya bagai menyimpan amarah matahari,

  kilaunya bagai membanting jilat lidah api,
  sedang seratnya persis lumut merah dari dataran rendah dan dingin sekali

  halus dan bikin bulu roma berdiri.
  setarakah ia dengan harga tape mini combo dual speaker dari negeri kami sebelah kiri sana?

  aku suka benar batu ini, jemariku dibuatnya bergetar sendiri.
  dikebat cincin perak motif akar berpilin tampak ia bakal rancak sekali!

benar sekali, tuan, benar sekali.
ini mustika hanya ada di negeri kami.

akan tetapi, tuan, ia tidak untuk diperjualbelikan.
siampa terkutuk kita bila nekat memperdagangkan.

ia hanya diperuntukan bagi orang-orang yang khatam
makrifat hidup dan mati.

namun karena air mukamu menampakkan
perjodohan dengan ia punya isi.

maka kepadamu, dan khusus buatmu,
dengan restu Yang Satu bakal kami beri!

akan tetapi, sebelum kau bawa pergi
sudilah kiranya tuan meninggalkan rupiah sebesar lima ratus ribu sebagai pengganti

upah mengasahnya dari sebesar biji mangga
hingga sebesar incek durian belanda ini.

sebab ini batu bukan sembarang
peluh demam dibuatnya bila tak pandai mengerjakan.

orang dari seberang pernah dibuatnya hampir mati berdengkang
ketika hendak mengasahnya dengan cara serampang!

- kau bilang ini mustika tidak untuk diperjualbelikan,
  tetapi kenapa maharnya setara ongkos bus Padang-Jakarta?

  kau pikir aku ini saudagar minyak apa!
  lagumu decit rem kereta sepanjang jalur Padang-Pariaman.

  kalau hanya sebagai pengganti upah mengasahnya
  di pojok sana cuma tiga puluh lima ribu rupiah per bingkah.

  besar pula hasilnya
  plus sekalian ongkos mengilatkannya.

  ini asah kemari tempang
  kau pinta sebegitu gedang.

  kau hendak berjualan atau menipu dagang?
  mati habislah kau barang dihempas ombak gadang!

oh tuan oi, tidaklah usah tuan bermurka durja, ini mustika
jangan samakan ia dengan batu dari lubuk serampangan saja

yang sekali diampelas
sekali pula kilatnya mencar di batu cadas.

kakekku orang siak
empat puluh hari empat puluh malam puasa mutih menjinakkan khodamnya,

dan pada saat merapikan bentuk opalnya
tak henti-hentinya ia membacakan Asmaul Husna.

bila sembarang mengerjakan
ranggaslah seluruh bulu di kepalanya

putuslah seisi tali di jantungnya.
bahkan yang lebih parah, pecah dan terlepaslah segala isi dalam celananya.

silahkan tuan tanyakan ke surau depan bila tak percaya.
di sanalah ia ketika menaruhkan hidup dan mati karenanya.

ini bukan tipu daya, tuan, aku tak pandai bermuslihat,
solatku tak kurang lima waktu sehari semalam!

- kalau kau benar ingin melepas ini batu
  aku beri seratus lima puluh ribu buat mengembalikan amalnya.

  ditambah lima puluh ribu lagi buat upah asahnya
  tiga puluh ribu lagi buat upah mengilatkannya

  dan plus bonus dua puluh ribu sebagai
  pembeli tisu buat mengelap air liurmu.

  kalau kau sedia ini batu aku bawa.
  kalau tidak silahkan kau cari tuan lain saja!

baiklah tuan, baiklah. kalau hanya segitu angka kau punya.
tak apa, silahkan kau bawa.

aku maharkan ia kepadamu seharga itu,
rupiah sebesar dua ratus lima puluh ribu!

tapi jangan bilang siapa-siapa ya.
aku lepas ia bukan karena butuh uang buat berhari raya.

aku lepas ia sebab, sebagaimana telah aku katakan di atas,
air mukamu menampakkan perjodohan dengannya.

ambillah ia. bawalah ia. silahkan kau kenakan di jari manismu.
lagakkan ia ke seluruh kolegamu.

kelak bila di malam-malam jumat keramat tiba-tiba ia memancarkan silau cahaya
jangan berduka.

bersukacitalah. sebab itu pertanda ia meminta kau dengan segera agar pergi mengajaknya
berburu rusa liar di rimba seberang sana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© Si Kerenggo Hitam is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon - Best SEO Template